Oleh: Ridwan GP
MENJELANG Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Riau 2025, maka mulailah para kandidat ketua dan timses jualan janji-janji, antara lain:
"Akan melakukan pembenahan untuk kejayaan PG."
Mulai meng-obral kata-kata "rekonsiliasi" dan "konsolidasi."
Juga meneriakkan: "Jadikan Musda yang akan datang ini sebagai momentum untuk membangkitkan kejayaan Partai Golkar di Bumi Lancang Kuning."
Luar biasa semangatnya (baca: gombalnya).
Apakah para calon ketua tersebut memiliki kapasitas yang terukur untuk melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi di Partai Golkar?
Yang akhirnya, bisa membuat "renstra" PG.
Sekali lagi, yang "terukur."
Untuk memaknai kedua kata tersebut agar bisa dilakukan dengan baik saja, saya meragukannya!!!
Itu tercermin ketika saya bertanya: "Dari mana Anda memulainya, dan prioritas apa yang akan Anda bangun?"
Yang ada adalah, membangun pertempuran baru di internal PG.
Mulai saling menyalahkan. Dan ‘tidak ada’ yang bicara kader PG yang berada di desa/kelurahan; yang hanya ‘tersentuh’ ketika Pileg/Pilkada (salah satu kelemahan dari sekian banyak yang saya amati).
PG kita hanya ada di ibukota provinsi dan kabupaten/kota. Dan itupun, giatnya sebatas ‘giat seremonial’ di dalam gedung dan tidak nampak ujungnya mau ke mana.
Menjadi kader PG hampir 40 tahun memberi saya pengalaman panjang melihat pasang-surut PG dengan segala dinamikanya, terkhusus pada agenda dekat ini yaitu Musda 2025.