Fakta di Balik Niat Pemerintah Jokowi Sunat Subsidi Solar dan Elpiji

photo author
Redaktur, Riau Satu
- Rabu, 15 Juni 2016 | 11:05 WIB

JAKARTA, RIAUSATU.COM-Pemerintah berencana memangkas besaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan elpiji 3 kilogram (Kg) sebesar Rp 23,05 triliun dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016. Anggaran subsidi Solar dan eliji nantinya akan tersisa Rp 40,64 triliun dari Rp 63,69 triliun.

Pemerintah mengaku ada sejumlah alasan pemotongan anggaran ini diperlukan. Pertama, sebagai akibat melemahnya kinerja penerimaan pajak. Kedua, antisipasi jika kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty urung dilakukan. Ketiga, pengalihan subsidi Solar dan elpiji ke listrik.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memangkas subsidi bahan bakar minyak solar sebesar Rp 650 per liter. Sebelumnya dianggarkan subsidi sebesar Rp 1.000 di mana nantinya akan menjadi hanya Rp 350 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said meyakini bahwa pemangkasan subsidi tersebut tidak akan membuat harga solar naik. Menurutnya, pemangkasan sebesar Rp 650 per liter sudah diperhitungkan, sehingga tidak akan berpengaruh terhadap inflasi.

''Kenapa diusulkan Rp 650, karena level itu yang memungkinkan harga solar dalam bulan-bulan kedepan tidak perlu naik. Jadi kalau dikatakan subsidi dicabut dan harga naik itu tidak benar,'' kata Menteri Sudirman di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, sebagaimana dilansir merdeka.com.

Dia mengaku, pemerintah memang tidak bisa memprediksi harga minyak dunia yang naik turun. Namun, dia tetap berharap tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.

''Kita ada kalkulasi dan prediksi. Mudah-mudahan menuju akhir tahun tidak ada kenaikan harga,'' imbuhnya.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengatakan pemangkasan subsidi elpiji 3 kilogram diturunkan karena harga Liquified Petroleum Gas (LPG) di pasaran dunia alami penurunan drastis. Selain itu, anjloknya harga minyak dunia ikut mempengaruhi dasar harga yang ada.

''Di Nota Keuangan ada penurunan subsidi Rp 1.000 per Kg untuk elpiji, tapi hitungan kita masih cukup karena harga pembelian (elpiji) murah, jadi tidak ada rencana kenaikan harga,'' kata dia kepada wartawan di Komplek Senayan, Jakarta.

Wiraatmaja mengungkapkan pemerintah awalnya memang berencana menaikkan harga elpiji. Hal ini dilakukan setelah perhitungan subsidi APBN 2016 sebesar Rp 31 triliun tidak mencukupi. Namun, lanjut Wirat, kenaikan harga mampu tertutupi usai harga LPG dunia menurun.

''Dulu subsidinya Rp 4.500-5.000/kg, sekarang subsidinya Rp 3.500-3.800/kg, kalau kondisi seperti ini tidak ada kenaikan. Rp 31 triliun untuk LPG tadinya kan rencananya harga dinaikkan karena supaya subsidinya cukup segitu, tapi dengan harga (LPG) turun tidak perlu naikin lagi,'' katanya.

Pernyataan pihak Menteri Sudirman ini berbeda dengan pemikiran koleganya di pemerintahan. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyadari pemotongan subsidi tersebut akan mempengaruhi inflasi. Sebab, dengan pemotongan maka akan menaikkan harga solar di pasaran, sehingga masyarakat harus membayar lebih mahal untuk membeli solar.

''Ya, itu juga bagian dari persoalan anggaran. Ya tentu kalau subsidinya dikurangi, mau tidak mau harganya naik. Ya akan ada dampak terhadap inflasi,'' kata Menko Darmin di gedung DPR RI, Jakarta.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah akan menyediakan bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat terhadap solar. Dengan terjaganya daya beli masyarakat, maka inflasi bisa tetap sesuai dengan target perintah sebesar 4 plus minus 1.

''Kalau bantalan sosial kita sudah punya bantuan sosial yang sudah mulai mapan, malah sistemnya makin lama makin diperbaiki. Bahkan subsidi ya sedang coba dipelajari untuk lebih efektif sampainya pada yang berhak, termasuk subsidi pupuk. Paling tidak mungkin akan dimulai dengan raskin,'' imbuhnya.

Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengakui pemangkasan subsidi tersebut akan memberi dampak terhadap inflasi. Meski begitu, dampaknya tidak terlalu besar, mengingat masyarakat lebih banyak memakai bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Pertamax.

''Harusnya ada (dampak ke inflasi). Tapi kalau besar itu berapa belum bisa kita prediksi,'' kata Suryamin di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta.

Selain itu, Deputi Bidang Statistik dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menjelaskan, pengaruh pemangkasan subsidi solar terhadap inflasi masih kecil. Sebab, pemakaian solar di rumah tangga hanya sebesar 3-5 persen, sedangkan sisanya untuk pemakaian BBM jenis lain, seperti Premium dan Pertamax.

Penghapusan subsidi ini dinilai kontraproduktif. Sebab, sistem distribusi elpiji terpantau masih belum baik. Di perbatasan Indonesia, warga bahkan harus membeli elpiji dengan harga lebih mahal.

Sudah beberapa hari ini, elpiji 3 kilogram (Kg) langka di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Selain tingginya permintaan selama bulan Ramadan, sulitnya warga menemukan elpiji tabung melon lantaran diduga aksi borong para pengecer. Imbasnya, warga terpaksa membeli elpiji Malaysia, meski lebih mahal.

Memasuki pekan kedua Ramadan ini, warga kian sulit menemukan elpiji melon buatan Pertamina. Biasanya, elpiji tabung melon masih terlihat di beberapa kios atau warung pengecer.

''Sekarang sebaliknya, memang sulit menemukan elpiji 3 Kilogram,'' kata Fadilah, salah seorang warga Jalan Pangeran Antasari, Nunukan, kepada merdeka.com.

Sulitnya menemukan elpiji 3 Kg, memaksa warga merogoh kocek lebih dalam, agar dapur mereka di rumah masih bisa mengepul. Warga terpaksa membeli elpiji Petronas dan Shell produksi negeri jiran Malaysia, meski harganya lebih mahal.

''Elpiji Malaysia 14 kilogram dijual Rp 250 ribu. Harganya memang lebih mahal, tapi mau bagaimana lagi? Kan dipakai istri memasak di dapur,'' ujar Fadilah.

Warga Nunukan lainnya yang tinggal di Jalan Hasanuddin, Eka Safitri (36) mengungkapkan, dia kesulitan menemukan elpiji 3 kilogram di pasaran, sehingga memaksa dia juga terpaksa membeli elpiji Malaysia.

''Ya benar, memang sulit beli elpiji 3 kilogram di sini. Yang ada elpiji Malaysia, 14 kilogram. Semua sudah tahu kok, elpiji Malaysia secara produk juga lebih padat isinya dibanding Pertamina,'' ungkap Eka.

''Kan dari Nunukan ke Tawau Malaysia, kira-kira cuma 1,5 jam naik speedboat. Elpiji Malaysia ini memang datang dari Tawau, karena dekat dengan Nunukan,'' terang Eka.

Eka juga meminta pemerintah tanggap dengan kelangkaan elpiji 3 kilogram ini. Apalagi, lanjut dia, kebutuhan masyarakat menjelang lebaran semakin meningkat, tidak hanya urusan elpiji saja.

''Kalau yang saya baca dari media, langkanya elpiji 3 kilogram ini karena keterlambatan pasokan dari Tarakan. Tapi, ada kemungkinan juga diborong pengecer, tidak tahu dijual ke mana,'' demikian Eka. (dri)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaktur

Tags

Rekomendasi

Terkini

X