ALIANTAN, RIAUSATU.COM — Dentuman meriam dari panser Anoa dan Tarantula memecah keheningan Bukit Suligi, Desa Aliantan, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, pada akhir September 2025.
Selama tiga hari, 24–27 September, Kompi Kavaleri 6/Rajawali Bhakti Tama (Kikav 6/RBT) Kodam XIX/Tuanku Tambusai menguji kemampuan prajuritnya dengan latihan menembak senjata kendaraan tempur (ranpur).
Sebanyak 46 personel dikerahkan. Mereka tiba di Aliantan dengan dua ranpur, dipimpin Dankikav 6/RBT, Kapten Kav. A. Munir Ritonga.
“Latihan ini untuk mengasah kemampuan sekaligus menjaga kesiapsiagaan prajurit,” ujar Kapten Munir.
Latihan berjalan lancar. Warga pun antusias menyaksikan jalannya uji tembak.
Camat Kabun, Anang Perdhana Putra, menilai kegiatan ini tak hanya meningkatkan profesionalisme prajurit, tetapi juga memberi dampak ekonomi lokal.
“UMKM tumbuh setiap ada latihan. Kami berharap Bukit Suligi bisa dijadikan pusat pelatihan,” katanya.
Namun, di balik gegap gempita latihan tempur, terdapat persoalan klasik: akses jalan.
Jalur 25 kilometer dari Simpang Kokar menuju Bukit Suligi masih berupa tanah, berlubang, becek, dan sempit.
Truk pengangkut ranpur bahkan sempat terjebak lumpur.
“Jalan provinsi ini rusak parah, padahal menghubungkan antarkabupaten,” ujar H. Herman Datuk Panglimo Sultan, tokoh masyarakat Aliantan.
Ironi kian terasa. Bukit Suligi bukan sekadar lokasi latihan militer.