kolom

Dari Carcassonne Prancis, Fahd El Fouz Bicara Soal Refleksi, Retrospeksi, dan Resolusi Menapaki Tahun 2023

Jumat, 30 Desember 2022 | 20:12 WIB
Fahd El Fouz A Rafiq, Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Nusantara (Bapera). (f: istimewa)

Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah muhasabah (introspeksi) untuk memperbaiki wajah kita sendiri, wajah beragama, persatuan, dan yang pasti wajah Indonesia.

Imam Ghazali, bapak tasawuf modern, mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi diri. Tidak hanya pada saat tutup tahun, namun setiap hari kita dianjurkan untuk diam sejenak mengoreksi diri.

Sekadar mengingatkan, dalam karya monumentalnya yaitu Ihya’ Ulumuddin Bab IV Halaman 420. Setelah kesadaran itu tumbuh dalam jiwa, kita selanjutnya memanjatkan doa akhir tahun “Ya Muhawwil Ahwal, Hawwil Halana ila Ahsanil Ahwal (duhai tuhanku, Wahai Dzat yang mengubah keadaan, ubahlah keadaan kami kepada sebaik baiknya keadaan)”.

Peganglah sebuah komitmen bahwa kemerdekaan negeri ini yang termaktub dalam nilai persatuan, kebersamaan, toleransi di tengah perbedaan dan harmonis adalah (hal mutlak).

Hal tersebut dikokohkan dalam prinsip UUD 1945 yang menjadi komitmen berbangsa dan bernegara kita. Dan, sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus resolusi. 

Refleksi untuk menelaah ulang apa yang telah terjadi selama setahun belakangan; apa yang sudah dan belum tercapai.

Proyeksi dan resolusi dalam artian menyusun rencana dan target selama setahun ke depan.

Melihat perjalanan bangsa selama setahun terakhir, kita dihadapkan pada beragam residu persoalan kebangsaan paling berbahaya ialah terjadinya apa yang disebut sebagai korosi ideologi.

Serbuan ideologi asing yang bertentangan dengan falsafah bangsa membuat ideologi nasional mengalami korosi atau semacam pengapuran dari dalam.

Alhasil, ideologi nasional pun menjadi rapuh. Pancasila yang menjadi salah satu pilar kebangsaan pun mengalami degradasi alias kemerosotan.

Sejumlah survei mendapati adanya kecenderungan generasi muda Indonesia tidak lagi mempercayai Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Dunia Global 
Si Vis Pacem Para Bellum (Jika kau mendambakan perdamaian bersiaplah untuk perang). Kalimat ini  sangat terkenal di zamannya, khususnya masa Imperium Romawi!

Ungkapan ini menjadi adagium bagi para agresor pecinta perang pada saat Romawi menjadi imperium dunia.

Napoleon Bonaparte sampai membalik ungkapan itu agar sesuai dengan naluri kekuasaannya. 
Dia mengatakan Si Vis Bellum Para Pacem jika mengharapkan perang, bersiaplah untuk Perdamaian.

Sepertinya adagium di atas berlaku saat ini, di mana tipe kepala negara bertipe agresor unjuk gigi seperti Vladimir Putin yang melakukan penyerangan sejak 24 Februari 2022 dan saat ini telah sukses menganeksasi empat provinsi Ukraina.

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB