kolom

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB
Salah satu petunjuk WC di Masjidil Haram. (f: istimewa)

DI MEKKAH orang bisa tersesat hanya karena berhenti lima menit. Arus manusia bergerak tanpa putus mengelilingi Masjidil Haram. Seusai shalat, jutaan jama’ah tumpah ke pelataran, jalan raya, terowongan, hotel, pusat belanja, restoran.

Dalam keramaian sebesar itu, kehilangan teman seperjalanan bukan lagi peristiwa luar biasa. Yang luar biasa adalah cara mereka saling menemukan kembali. Maka terdengarlah percakapan-percakapan sederhana ini:

“Nanti ketemu di WC 8.”

“Saya tunggu di WC 4.”

“Kalau terpisah, balik ke WC 9 yaa.”

WC menjadi penunjuk arah yang paling populer di sekitar Masjidil Haram. Ia mudah dikenali, tetap berada di tempatnya, permanen, diketahui hampir semua orang. Tidak romantis, tidak monumental, icak-icak, tapi karena itu ia efektif.

Fenomena ini nampaknya sepele. Namun di negeri yang menjadi pusat orientasi spiritual miliaran manusia, hal-hal sepele memancing pertanyaan lebih besar. Mengapa di sekitar Masjidil Haram orang berjanji bertemu di WC?

Tentu tak ada maksud kesengajaan filosofis di balik pilihan itu. Jama’ah hanya membutuhkan titik temu praktis. Namun agaknya tersebab ketidaksengajaan itulah WC-WC di sekitar Masjidil Haram ini menjadi makna simbolik yang menarik dipermenungkan.

Masjidil Haram adalah pusat. Segala sesuatu mengarah ke sana. Orang datang dari berbagai benua melakukan satu hal yang sama. Menghadap Allah. Mereka berjalan menuju Ka’bah, mengelilinginya, memandanginya, berhiba-hiba hati, meletakkan dahi, menempelkan pipi, memanjatkan doa, menangiskan dosa, mematlamatkan sujud ketundukan kepada Allah.

Di luar kawasan ibadah, kehidupan berlangsung sebagaimana biasa. Hotel-hotel berdiri megah. Pusat perbelanjaan penuh pengunjung. Antrean kafe 1/2M tak pernah sepi, demi kopi yang biasa-biasa saja, atawa demi tumbler yang entah kenapa bikin Emak-Emak tergila-gila. Restoran buka 24 jam. Setiap detik uang berpindah tangan.

Semua normal. Semua diperlukan. Tetapi menariknya, tatkala orang membutuhkan penanda di luar pusat penghambaan insan terhadap Sang Maha, ingatan yang lekas muncul malah WC. Barangkali di situlah tersimpan ironi terindah. Di dalam masjid terdapat tujuan. Segala yang di luar masjid cuma sarana. Ketika sarana-sarana itu perlu diberi penunjuk arah, manusia cukup berkata, “berjumpa di WC…”

Islam sejak awal tidak pernah menempatkan dunia sebagai tujuan akhir. Rasulullah menggambarkan kecilnya nilai dunia dengan pelbagai perumpamaan yang keras. Dalam sebuah hadits, beliau mengibaratkan dunia bagai bangkai kambing cacat. Dalam hadis lain, Baginda Nabi menyebut manusia laksana pelancong dekil, yang berteduh sebentar di bawah pohon sebelum melanjutkan lusuh perjalanan.

Dunia bukan rumah. Dunia adalah ruang transit. Karena itu, sulit menolak godaan untuk melihat WC-WC di sekitar Masjidil Haram sebagai metafora yang hidup. Bukan karena toilet hina, melainkan karena fungsinya yang murni instrumental. Orang mencarinya ketika perlu. Orang mengingat lokasinya agar tidak tersesat. Tetapi tak seorang pun datang ke Mekkah demi WC.

Tujuannya tetap Ka’bah. Di titik ini Tanah Suci seperti menyederhanakan banyak kerumitan hidup modern. Di luar sana manusia menghabiskan energi mengejar jabatan, kekayaan, popularitas, dan ragam atribut dunia lainnya. Semua terlihat sangat penting. Semua nampak mendesak.

Namun ketika berada di hadapan Ka’bah, hierarki tersebut berubah. Gedung-gedung tertinggi menjadi latar belakang saja. Merek-merek hebat kehilangan daya pikat. Yang tersisa hanya manusia dan Tuhannya.

Halaman:

Tags

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB