Situasi ini menciptakan konstelasi yang relatif stabil bagi Parisman Ihwan.
Tanpa adanya calon eksternal yang memperoleh diskresi, peluang Parisman untuk melaju tanpa perlawanan semakin besar.
Musda pun berpotensi menjadi ajang musyawarah mufakat untuk mengesahkan satu-satunya calon yang memenuhi syarat dan memiliki dukungan mayoritas.
Namun demikian, dinamika politik dalam partai besar seperti Golkar kerap menyimpan kejutan.
Pemberian diskresi bisa mengubah peta kontestasi secara signifikan.
Jika diskresi diberikan kepada SF Hariyanto, Musda kemungkinan akan diwarnai kompetisi terbuka yang tidak hanya menyangkut elektabilitas kandidat, tetapi juga kemampuan membangun jejaring politik internal partai.
Di tengah persiapan Pilkada dan Pemilu mendatang, konsolidasi partai di daerah menjadi penting.
Apakah partai akan menempuh jalan musyawarah dengan calon tunggal dari kader internal, atau membuka ruang kompetisi dengan memberi kesempatan kepada figur eksternal melalui diskresi, sepenuhnya bergantung pada keputusan Ketua Umum DPP.
Sampai keputusan itu diambil, satu hal yang tampak jelas: Parisman Ihwan masih menjadi calon paling kuat untuk memimpin Golkar Riau lima tahun ke depan. ***
Novrizon Burman
Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Riausatu.com