Oleh: Wina Armada Sukardi
BANYAKNYA urusan Sang Tokoh membuat waktunya memenuhi undangan ceramah dan semacamnya sangat terbatas.Hal ini membuat Sang Tokoh berpikir keras, bagaimana caranya supaya waktunya lebih efektif.
Sang Tokoh memutuskan membentuk tim untuk menentukan bagaimana cara paling efektif dan efisien?
Dari rembukan anggota tim itu, rekomendasinya upaya untuk menciptakan mekanisme yang efektif melalui cara sarana dan prasana modern. Praktis dan dapat menjangkau publik secara luas. Tim menganjurkan lewat platform podcast.
Alasan tim ada dua: satu jangkauan podcast sangat luas. Dapat diakses dengan bebas oleh semua orang darimana pun. Lagi pula kontennya dapat ditonton setiap saat.
Alasan kedua, memanfaatkan podcast juga dapat menghasilkan uang. Sang Tokoh dengan senang hati mengikuti rekomendasi tim itu.
Mulailah Sang Tokoh mempersiapkan pembuat podcast. Dia merekrut tenaga-tenaga profesional, terutama dari kaum muda. Dia meminta pendapat mereka dari terutama dari aspek teknikal, bagaimana agar kualitas gambar dan suara prina.
Sesuai pendapat yang berkembang, walaupun tayangan utamanya melalui youtube yang panjang, tetapi untuk promo juga dilakukan melalui Youtube Short, Tik Tok, IG, Facebook, dan sebagainya. Sedangkan topiknya aspek-aspek religius yang relevan dengan konteks sosial.
Tak lebih dari sebulan, podcast Sang Tokoh “‘meledak.” Penampilannya semacam sindirian, membahas topik tertentu atau menjawab pertanyaan dari media sosial, rupanya segera saja digemari.
Siaran podcastnya rata-rata dapat menembus 25 juta penonton setiap kali tayang. Setelah itu Sang Tokoh tinggal menangguk cuan atau keuntungan saja. Bermiliar-miliar rupiah mengalir ke pundi-pundinya.
Selain penampilan pribadi, Sang Tokoh juga kemudian membuat format dengan penonton hadir di studio.
Penonton ini berganti-ganti, mulai dari majelis taklim, kelompok pengajian, organisasi sosial kemasyarakatan, di Jakarta ataupun luar daerah. Mereka dihadirkan ke studio, dan setelah mendengar keterangan dari Sang Tokoh, dilanjutkan dengan cara berinteraktif dengan Sang Tokoh.
Hal ini berarti mengembalikan cara Sang Tokoh berceramah sebelumnya. Jika semula Sang Tokoh yang mendatangi masyarakat, sebaliknya kiwari (kini) justeru masyarakat yang medatangi Sang Tokoh.
Caranya ini pun tetap digemari oleh para penontonnya dan selalu tembus di atas 25 juta viewer atau penonton. Dengan begitu, uang pun tetap menggelontor ke rekening Sang Tokoh. Walhasil, Sang Tokoh semakin tebal kantongnya, dan dia sendiri menjadi luar biasa terkenal.
Sang Tokoh bukanlah manusia tamak. Seiring pendapatan dari podcast yang menumpuk, masyarakat yang datang ke studio podcast-nya, dari seluruh Indonesia mulai dibiayai Sang Tokoh.