kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [15] Laporan Penggemar

Rabu, 27 Maret 2024 | 17:09 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Semulanya biasa saja. Lama-lama kami memang semakin erat. Saya pikir dia tulus ikhlas. Belakangan saya baru tahu sebenarnya dia munafik. Penuh nafsu. Penampilannya cuma topeng saja. Maka saya melaporkannya.

Kronologis kejadian:

Saya ingat waktu itu tanggal 25 April. Dia menjadi penceramah di Hotel Pas Ples bintang empat. Setelah ceramah dia mengundang saya ke restoran yang ada di sana. Lalu mengajak kamar yang sudah dia pesan lebih dahulu. Jadi sudah ada niat buruknya.

Kami ke kamar bersama. Saya bukan perempuan murahan. Saya setuju ikut ke kamar karena mungkin lebih santai.

Sesudah dia menaruh barang-barangnya, terjadi peristiwa itu. Mula-mula dia mengusap-usap wajah saya. Memuji kecantikan saya. Beralih mengelus-ngelus lengan saya.

Masih saya biarkan. Tetapi waktu tangannya mau ke dada dan berusaha membuka baju saya, saya mulai melawan. Awalnya masih halus, tetapi melihat dia semakin kasar, saya pun dengan keras menolaknya. Eh, dia malah tambah kalap, dia mulai memeluk paksa saya, mau cium-cium leher saya. Seketika saya meronta-ronta.

Mendorongnya, sampai dia jatuh ke tempat tidur.

Saya buka pintu, lari. Di bawah untungnya saya masih ingat untuk memperoleh  bukti. Saya ke repsesionis minta dokumentasi pemesanan dan pembayaan. Bukti itu sampai sekarang masih  saya simpan dan akan saya kasih ke polisi.

Saya melaporkan kasus ini bukan karena masalah saya saja, tetapi supaya jangan ada korban-korban kelicikan dan kemunafikannya. Makanya saya ingin diproses hukum dan karena dia pesohor dan berkedok agama, kalau mungkin dia dihukum seberat-beratnya. Soal pasal dan undang-undangnya saya tidak faham. Saya serahkan ke polisi dan pengacara saya.”

Setelah memeriksa perempuan yang melaporkan Sang Tokoh, giliran polisi memeriksa Sang Tokoh. Inilah sebagian prosesnya:

“Saudara kenal dengan perempuan yang melaporkan Saudara?” tanya penyidik.

“Tidak. Tidak sama sekali!” jawab Sang Tokoh.

“Kalau tidak kenal, bagaimana dia dapat berfoto bersama Saudara?”

“Mungkin saja. Biasanya setelah acara resmi ceramah dan sebagainya, banyak yang minta selfi atau foto bersama, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Nah foto tersebut kemungkinan besar foto setelah saya ceramah.”

“Saudara  ingat kapan foto tersebut?”

Halaman:

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB