kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [14] Bukti Menohok

Senin, 25 Maret 2024 | 23:53 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Sang Tokoh masih diam juga.

“Tolong dengan kerendahan hati cabutlah laporannya!”

Sang Tokoh tak mungkin lagi mencabut laporan. Lagipula jika laporan dicabut, Sang Tokoh tidak memberi teladan kepada generasi muda.

Oknum seperti Kanit ini adalah oknum yang mencemarkan organisasi Polri. Begitu banyak anggota Polri bahu membahu menjaga profesionalitas dan integritas, tapi dengan sikap tercela seorang atau beberapa orang dapat meruntuhkan kepercayaan kepada Polri. Jadi harus tetap dilaporkan.

“Saya minta maaf.”

Sang Tokoh masih mematung.

“Sekali lagi saya minta maaf. Tolonglah saya,” katanya memelas. Dia tak lagi ingat betapa arogannya dia sebelumnya.

“Tapi waktu Bapak meminta uang kepada pencari keadilan, Bapak tidak ingat anak dan isteri sendiri?”

“Ya itulah saya khilaf,“ tuturnya.

Dari awal Sang Tokoh ini dapat melihat betapa Kanit pemain watak, penjilat. Jalan apapun dia bersedia tempuh asal dirinya selamat. Tetapi kalau sudah lolos, dia bakal lupa kepada penolongnya sekalipun.

Sang Tokoh memandangnya. Segala pembelaan itu tak memberi pengaruh apapun kepadanya, malah membuatnya menjadi benci.

"Begini aja, Pak. Nanti permintaan Bapak saya pertimbangkan bersama keluarga. Hasilnya,  segera saya kabarkan ke Bapak.”

Polisi itu secepat kilat mencabut pistol dari pinggangnya.

Mengokang dan mengarahkan kepada Sang Tokoh.

“Saya tidak main-main! Kalau tidak dicabut, segera saya tembak!” Tangannya memegang pistol dengan sikap siaga meletuskan tepat ke arah Sang Tokoh.

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB