Penumpang mobil itu turun dan menghampiri Sang Tokoh yang masih duduk di bagian belakang mobil. Penumpang itu ternyata Si Kanit. Merasa aman Sang Tokoh keluar mobil.
“Kita perlu bicara” kata Kanit tadi.
“Di mana?”
“Ya di sini saja.”
“Soal apa?”
“Laporan Adinda ke Propam,” katanya.
Perhatikan, kini dia memakai istilah “Adinda” ke Sang Tokoh, padahal sebelumnya sangat arogan.
“Iya. Kenapa?”
“Tanpa malu saya mau minya tolong ke Adinda.”
“Saya belum faham.”
“Tolonglah Adinda cabut laporan ke Propam.”
"Memang kenapa?”
“Tolonglah saya. Nanti kalau sampai ke Propam, pastilah saya tidak dapat menghindari diri. Soal dikenakan sanksi seberat apapun saya terima. Tapi kalau saya sampai dipecat, bukan hanya karier saya yang hancur, tetapi juga masa depan saya.”
Sang Tokoh diam saja.
"Saya punya isteri dan anak-anak. Bagaimana nanti mereka jika bapaknya sampai dipecat karena kasus ini.”