Sang tokoh sudah memahami jaringan itu sampai ke Kanit, dan pasti dia harus mempertanggung jawabankannya. Maka kini dia sangat gelisah dan mencari jalan keluar.
Sementara pada hari itu juga pihak Polri mengeluarkan keterangan dan pernyataan resmi melalui Kepala Divisi Humas.
“Polri tidak pernah menolerir penyimpangan dalam bentuk apapun juga di tubuh Polri. Siapapun yang terbukti bersalah, akan ditindak tegas. Sejarah Polri sudah membuktikan, dari pangkat bawahan sampai ke jenderal, jika bersalah, akan ditindak tegas tanpa pandang bulu. Polri selalu mengetengahkan profesionalitas, dan Polri senantiasa menegakan integritas kepada semua anggotanya.
Terhadap kasus penjebakkan yang mengatasnamakan razia, saat ini sudah dalam proses pemeriksaan baik etik maupun pidananya. Jika sudah selesai pemeriksaannya, kami umumkan.
Tapi kami tegaskan, tindakan tersebut merupakan tindakan oknum dan tidak mewakili instansi Polri.”
Sang Tokoh memahami Kanit dan jaringannya akan segera ditindak keras. Tentu saja Polri tidak mau menanggung ulah oknumnya merusak citra Polri, maka Polri memang perlu mengambil tindakan tegas.
Anak paman Sang Tokoh hari itu juga dilepaskan. Dibebaskan. Hasil tes urine menunjukan dia bukan pengguna narkoba.
Kasus penemuan sabu di mobilknya terbukti hasil rekayasa yang kini sedang dalam proses penyidikan internal Polri. Tentu saja kasus ini menjadi bahan berita pers dan media sosial.
Dalam kasus ini sulit dibantah adagium baru: no viral no justice. Tiada keadilan kalau tidak ada viral.
Meskipun prosedur-prosedur hukum formal tetap berjalan, tetapi kasus yang viral, yang menarik perhatian masyarakat akan memperoleh atensi juga dari lembaga-lembaga penegak hukum.
Viral suatu kasus mempercepat proses hukumnya, terbukti dari kasus anaknya paman Sang Tokoh.
Urusan belum rampung. Sewaktu hari itu Sang Tokoh mau pulang, dia menyadari mobilnya diikuti sebuah mobil dan dua buah motor.
Sang Tokoh memerintahkan supirnya berputar-putar lebih dahulu untuk membuktikan mobilnya diikuti atau tidak.
Ternyata benar, mobil mereka dikuntit. Sang Tokoh memerintahkan supirnya menuju arah masjid yang terletak di pingggir jalan. Lalu berhenti di situ. Alasannya: kalau terjadi apa-apa ada masyarakat yang mengetahuinya.
Bersamaan dengan masuknya mobil Sang Tokoh ke dalam masjid, mobil yang menguntitnya pun masuk pula. Mobil itu berhenti tepat di sebelah mobil Sang Tokoh.