Kanit itu naik pitam. ”Kalian jangan menghina ya! Sekarang, keluar ruangan!!” teriaknya.
“Maaaf, maaf, kalo gitu boleh saya naikin lagi tawarannya?”
“Berapa?”
“Jadi Rp15 juta.”
Kemarahan Kanit itu tidak tertahan lagi. ”Kali benar-benar mempermainIan kami ya! Keluar sekarang juga!” hardiknya.
“Maaaf, maaaf Pak. Sekali lagi maaf. Tak ada maksud kami untuk menghina Bapak, apalagi menghina lembaga kepolisian. Tapi itulah kemampuan kami.”
"Saya sudah tidak mau mendengar lagi. Nanti kalian pasti menyesal. Silakan kekuar!”
"Izin Pak, sebelum keluar, kami ada satu permintaaan dulu. Bolehkah?” kata Sang Tokoh, dan sengaja belum berdiri.
“Apa itu?”
"Kami minta Bapak segera melepaskan saudara kami sekarang juga!”
“Apa? Saya tidak salah dengar.”
“Betul! Bapak tidak salah dengar,” jawab Sang Tokoh.
Sang Tokoh kini berbalik berbicara dengan tegas. ”Ya, saya minta sekarang juga, secepatnya, saudara kami dibebaskan.”
“Biar ada atensi dengan tingkat atas sekalipun, saya tidak takut. Akan kami proses secepatnya.”
“Kalau bapak tidak bebaskan segera, nanti Bapak menyesal lho!” tutur Sang Tokoh seakan menantang.