“Waktunya tinggal sehari. Paling lambat besok malam hari, sudah lunas. Sudah tuntas.”
“Kami harus cari dulu uang cash-nya. Uang segitu tidak sedikit buat kami.”
“Ala, jangan pura-puralah. Saya tahu duitnya banyak. Saya besok seharian ada di sini.”
Sang Tokoh dan keluarga keluar ruangan.
Sang Tokoh beberapa kali berceramah di depan perwira polisi. Dia juga kenal dengan beberapa petinggi polisi.
Beberapa sudah dia hubungi via telepon dan menceritakan masalahnya. Sang Tokoh mau menceritakan soal ini karena dia percaya sebagian besar polisi sebenarnya mampunyai tingkat profesional yang sangat baik. Artinya mempunyai kompetensi yang memadai integritasnya juga memenuhi syarat sebagai seorang penegak hukum.
Dalam pandangannya, hanya segelintir anggota polisi yang berprilaku tercela, tetapi persoalannya mereka seperti lebih berani. Lebih vulgar. Akibatnya, seakan polisi yang segelintir dengan sifat tercela itu menjadi cermin keadaan polisi.
Para perwira yang dihubungi Sang Tokoh mengaku akan memberi perhatian, tetapi akan lebih dahulu mempelajari perkaranya. Mereka terus terang mengatakan tidak dapat melakukan intervensi tanpa dasar hukum yang kuat.
“Paling tidak akan jadi atensi,” kata seorang perwira kepada Sang Tokoh. Masalahnya, atensi itu kemungkinan membuat tenggat waktu satu hari berlalu, dan itu artinya kasusnya bakal naik kepenyidikan dan masuk ke pengadilan.
Pada saat-saat seperti ini Sang Tokoh, selain salat, selalu dia berdoa secara khusus. Dia berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Minta diberi petunjuk, ketabahan secara keihlasan apapun yang terjadi. Dia yakin kebatilan bakal selalu terbenam oleh kebenaran melalui cara yang khas dan sering tidak diketahui. Caranya inilah yang perlu dicari.
Pada hari harus menentukan pilihan apakah membiarkan sepupunya diadili atau menyerah kepada praktek sogok, Sang Tokoh masih belum dapat menentukan pilihan. Soal yang Rp500 juta baginya tidak masalah. Uang segitu dalam pundi-pundinya tak banyak berarti. Maslahnya apakah dia harus tunduk dan menunjang praktek tercela.
Pagi hari ketika Sang Tokoh bakal keluar rumah, penjaga menyerahkan sebuah paket. “Pesannya, pokoknya paket harus diterima langsung pagi ini juga,” kata penjaga rumah.
“Dari siapa?”
“Katanya nanti Bapak juga bakal tahu. Begitu pesan pengirimnya,” jawab penjaga.
Paket dibungkus dan seperti dilabel dari kurir pengiriman sebuah perusahaan. Padahal, sebenarnya dikirim langsung oleh pengirimnya tanpa lewat jasa pengiriman.