“Saya habis pulang dari rumah teman, di jalan ada razia. Diperiksa di mobil saya ada sabu. Ya terus digiring ke sini. Ditangkap. Ditahan.”
“Jadi, sekali nih, gak ada urusannya sama narkoba ya?”
“Asli seratus persen !”
Pembicaraan belum tuntas, anak pamannya sudah harus dibawa lagi ke dalam sel. Dari pengelihatan Sang Tokoh, sepupunyan jujur. Dapat dipercaya. Semua yang diceritakannya benar adanya.
Sang Tokoh terus berpikir keras bagaimana hal itu dapat terjadi. Dari mulai yang paling naif sampai teori konspirasi, dia belum mendapat jawabannya.
Mereka bertiga, Sang Tokoh, ayah, dan pamannya, segera menghadap komandan unit bidang narkoba. Komandan inilah yang mempunyai kewenangan pada kasus ini. Di ruangannya dia kelihatan sangat sibuk.
Kedatangan Sang Tokoh, ayah, dan pamannya ditanggapi dingin saja. Sang Tokoh menangkap aura negatif dari polisi itu. Lebih lanjut Sang Tokoh melihat polisi itu seperti bakal segera dipindahtugaskan, bahkan bakal kena sanksi etik dan hukum sekaligus.
“Silakan duduk!” kata Komandan itu dari tempat duduknya. Di depan komandan itu, Sang Tokoh cs di kursi yang ada di sana-sini sudah rusak. “Maaf ada apa?”
“Kami ingin bertanya dan membicarakan soal saudara kami yang tadi malam…”
Belum selesai Sang Tokoh berbicara, sudah dipotong.”Oh yang tadi malam ketangkap tangan operasi kan?”
“Ehmm….”
“Ya berdasarkan laporan dian tertangkap tangan di mobilnya, ada narkoba. Sabu”
“Tapi….”
“Biar dijadiin gak ada kasusnya, semuanya beres, Rp500 juta. Kontan,” katanya tanpa basa-basi sama sekaki. Juga tak ada rasa takut dan rasa bersalah.
“Jangan lebih dari tiga hari karena kalau sudah lebih tiga hari mungkin sudah tercium pers dan sudah harus ada laporannya. Kalau belum tiga hari, kami masih dapat memutuskan “