“Jangan dilihat jumlahnya, tapi keikhlasan dari yang memberinya dan kehormatan buat yang menerimanya.”
“Iya, baik.”
“Itu tasnya juga tolong dijaga dengan baik. Maklum dari merek bagus.”
Sang Tokoh melihat merek tasnya: Hermes. Sang Tokoh tahu itu merek ternama. Harganya selangit.
“Terima kasih,” jawab Sang Tokoh
Dalam mobil menuju perjalanan pulang, Sang Tokoh membuka tas itu dan melihat isinya. Dolar US. Jumlahnya: 100.000.dolar atau sekitar Rp1,5 miiar. Inilah jumlah honorarium terbesar yang pernah diterima Sang Tokoh.
Ada kesanksian dari Sang Tokoh, benar tidak honor sebesar itu buat dirinya. Dia segera menelepon pengundangnya.
“Izin Pak, tas Hermes sudah saya buka. Isinya banyak sekali. Apa ini tidak salah memasukkan honornya?”
“Oh sama sekali tidak. Buat Sang Tokoh yang kharismatik layak dapat itu semua.”
“Iya, kalau begitu sekali lagi terima kasih.”
Pulang ke rumah, Sang Tokoh menjumpai pamannya sudah ada di rumahnya. Wajah pamannya kusut. Di sana ada juga Bapak ibu Sang Tokoh. Belakangan adiknya juga ikut berkumpul. Sang Tokoh segera tahu pasti sedang ada masalah.
“Anak saya ditangkap polisi!” kata pamannya.
“Kenapa?” tanya ayahnya
“Katanya soal narkoba!”
Tak banyak berbicara, Sang Tokoh, ayah, dan pamannya meluncur ke sebuah kantor polisi di Jakarta.