kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [13] Tas Hermes dan Paket Misterius

Minggu, 24 Maret 2024 | 23:55 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Rumah bertingkat tiga. Ketimbang rumah biasa, rumah ini lebih mirip istana megah.

“Saya beli sedikit demi sedikit,” terang si pemilik rumah.

”Begitu ada uang lebih, dulu saya beli tanah di kiri kanan. Tentu dengan harga di atas pasaran.. Kalau enggak, ya mana mau. Tapi tetap saat itu masih murah,” tambahnya.

Rumah dilengkapi dengan berbagai teknologi modern. 

Jika seorang yang tidak dikehendaki masuk ke dalam rumah, kemungkinan besar tidak dapat keluar lagi, karena ada berbagai sistem yang mencegahnya keluar, mulai dari teknologi kunci otomatis sampai semprotan asap yang dapat membuat pemandangan kabur kehilangan arah.

Sang Tokoh takjub akan kemewahan dan kecanggihan rumah ini. Juga artistik yang serba indah. Kalau di kalkulasi seluruhnya, mungkin rumah ini menjadi salah satu dari 100 rumah termahal di Jakarta.

Sang Tokoh menguraikan antara empati dan ditipu dua hal yang berbeda.

“Kalau ada pengemis, dia dengan wajah dimelas-melaskan, meminta-minta kepada kita, padahal dia berbadan tegap, punya rumah permanen di kampung, bagus pula. Lebih dari itu, isterinya dua atau tiga. Nah, yang begitu bukan pengemis, tapi pura-pura jadi pengemis,” jelas Sang Tokoh.

"Kalau pengemis benar, kita memang wajib empati, bahkan menolong atau berbagi rezeki dengan mereka. Tetapi terhadap orang yang pura-pura menjadi pengemis, mereka orang-orang  pemalas. Mereka menipu kita. Kita tidak wajib menolong mereka, bahkan kalau kita memberikan bantuan kepada mereka, seakan membantu penipuan. Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.”

Pada bagian lain, Sang Tokoh menekankan aparat penyelenggara negara wajib menjaga amanah yang diberikan kepada mereka.

“Kalau aparat pemerintah atau negara melakukan perbuatan tercela, mereka dua kali melakukan pengkhianatan. Pertama, terhadap negaranya. Kedua, kepada jabatannya. Dan ketiga, terutama pengkhianatan terhadap rakyat,” tutur Sang Tokoh.

Hadirin yang merupakan keluarga besar, kerabat dan relasi pengundang menyimak uraian-uraian Sang Tokoh dengan seksama sampai usai. Nampaknya semuanya puas.

Sebelum pulang, Sang Tokoh diajak oleh  tuan rumah masuk ke sebuah ruangan. Di sana Sang Tokoh diberi sebuah tas.

“Ini kenangan-kenangan sekaligus honor,” kata tuan rumah pengundang. ”Mohon diterima dengan baik.”

“Tentu saya terima dengan senang hati. Alhamdullilah. Terima kasih.”

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB