kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [9] Berjumpa Ratu Pantai Selatan

Rabu, 20 Maret 2024 | 23:48 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Satu menit kemudian, berarti tepat pukul 21.00, seseorang wanita berpakaian kebaya hijau masuk ke dalam lift. Kelihatannya dia bos dari kedua perempuan yang masuk duluan.

Wouw, cantik nian perempuan setengah baya ini. Hidung mancung tetapi tidak semancung hidung orang Eropa. Matanya penuh kharisma. Baju kebayanya dari pundak dan dada depan dibuat transparan, sehingga nampak kulitnya yang mulus.

Ya ampun, dia sempat melirik sebentar ke Sang Tokoh. Kerlingan matanya dahsyat bagaikan aliran listrik berkapasitas tinggi.

Jantung Sang Tokoh hampir copot. Luar biasa menariknya ini mahluk perempuan, dalam pengelihatan Sang Tokoh.

Kemudian perempuan itu berdiri di depan tombol-tombol lift, sebelah kanan depan Sang Tokoh. Rambutnya tergerai. Di bagian dahi ada semacam mahkota perak campur emas dan dihiasi mutu manikam.

Dan amboi, wanginya minta ampun. Meski wangi terasa benar, namun bukanlah harum yang menyengat hidung, tapi harum yang menimbulkan romantisme, terutama bagi kaum adam. Harum yang membuat pria dewasa manapun pasti ingin mengikuti dan menghirupnya.

Dari arah belakang Sang Tokoh terus memperhatikan perempuan itu. Semuanya hampir sempurna, batin Sang Tokoh. Kalaulah tidak ada dua “asistennya”, mungkin Sang Tokoh telah berniat mengulurkan tangan berkenalan.

Beruntung Sang Tokoh bukanlah tipe
lelaki “bangor.“ Bukan lelaki hidung belang. Meski tertarik, dia dapat menahan diri. Tidak lupa diri.

Melihat ada perempuan dengan sejuta pesona, dia justeru tafakur. “Ya Allah, Ya Tuhanku, bimbinglah hambamu ini. Kuatkanlah iman hamba,” Sang Tokoh berdoa, dalam hati.

Dua asisten perempuan itu menekan tombol angka di lift. Sang Tokoh melirik. Sepintas dia melihat yang ditekan angka 6.

Tak lama kemudian, di lantai 6, prempuan itu keluar, diikuti oleh dua asistennya. Sang Tokoh melihat mereka sampai pintu lift tertutup kembali.

Sekeluarnya “tiga bidadari itu”, di lift justeru meninggalkan harum luar biasa. Kali ini sedemikian harumnya membuat kepala Sang Tokoh agak pusing. Lebih pusing dan semakin pusing.

Akibatnya, dia sampai lupa kamarnya ada di lantai berapa. Sudah beberapa kali Sang Tokoh turun di lantai yang salah.

Keluarganya pun tidak dapat dihubungi sama sekali. Telepon tangan mereka tiba-tiba seperti mati. Sang Tokoh benar-benar tidak dapat menemukan lantai kamarnya.

Sekali lagi Sang Tokoh mencoba menekan tombol lift dan turun. Salah lagi. Rasa pusing masih ada pada diri Sang Tokoh, tetapi sudah agak berkurang.

Halaman:

Tags

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB