kolom

Fusi di Tubuh PWI, Catatan Hendro Basuki

Senin, 2 Oktober 2023 | 20:35 WIB
Hendro Basuki. (f: istimewa)

Nuclear fusion is the process by which two light atomic nuclei combine to form a single heavier one while releasing massive amounts of energy.

Fusion reactions take place in a state of matter called plasma — a hot, charged gas made of positive ions and free-moving electrons with unique properties distinct from solids, liquids or gases. (IAEA)

BAGI penggemar ilmu fisika, melihat Kongres ke-25 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Bandung, mirip seperti ledakan yang dihasilkan dari fusi nuklir. Saya, termasuk yang mempercayai dan penggemar teori fusi itu dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat penulis tahu bahwa ada beberapa rekan yang berminat mencalonkan diri menjadi ketua umum, harapan penulis segeralah mereka konsolidasi. Jauh hari pula, penulis  berharap bahwa jika mencalonkan diri, jangan setengah hati untuk sekadar dihitung masuk "kabinet".

Sebenarnya, PWI memiliki stok kader berlimpah untuk menjadi ketua umum. Tetapi, tentu jer basuki mawa bea. Bahwa yang baik itu memerlukan "biaya". Maksud "biaya" di sini adalah waktu, konsentrasi, perhatian, pertimbangan keluarga, dan lain-lain.

Dan, ketika sampai di kongres, kita semua tahu ternyata hanya tiga saja yakni Atal Sembiring Depari (ASD), Hendry Chaerudin Bangun (HCB), dan Zulmansyah Sakedang (ZS). Seperti layaknya sebuah kontestasi, tentu ada drama yang selalu mengikuti. Bukan drama itu yang penulis ingin bahas, tetapi justru pascanya.

Fakta Kemenangan

Ketika HCB menang, jelas ada fakta terbantu ZS. Eksisnya ZS, karena kesetiaan follower. HCB sendiri memiliki follower yang setia sejak Kongres Solo 2018 lalu.

Gabungan dari dua tokoh tersebut memperlihatkan apa yang penulis sebut sebagai kesetiaan followers. Lalu muncul Sasongko (Sas/Ssk) yang terpilih secara aklamasi. Mungkin mengagetkan. Kok aklamasi? Tetapi tidak bagi penulis yang pernah lama sebagai rekan kerja,  jadi, tahu persis kapasitasnya.

Dalam konteks itulah penulis ingin mengatakan, konfigurasi ketiga figur ini menarik. Latar belakang budaya juga berbeda, tetapi semua matang berorganisasi.

Konfigurasi ini menarik dilihat dari banyak sisi.

Pertama, di level  pertama yakni HCB dan Sas umurnya 60 lebih, dan matang mengelola PWI. Datang figur baru di level pusat ZS yang mungkin lebih muda 10-12 tahun dari keduanya. Maka, transfer manajerial lebih mudah berlangsung.

Kedua, ZS datang dari provinsi. Tentu dia memahami dinamika dan seluruh angan-angan orang provinsi.

Ketiga, HCB dan ZS datang dari kultur yang lebih egaliter, terbuka, dan to the point. Sedangkan Sas datang dari latar belakang budaya tenang, pengendalian diri ala Jawa, tetapi tumbuh sebagai organisatoris lama baik di PWI, maupun di Palang Merah Indonesia (PMI)

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB