Kasus Dugaan Penghinaan Wartawan oleh Sekda Riau Berlanjut di Polda

photo author
Febriyanto RS, Riau Satu
- Selasa, 1 Agustus 2023 | 17:39 WIB
(Kiri) SF Hariyanto dan Fajar Muhardi. (f: internet)
(Kiri) SF Hariyanto dan Fajar Muhardi. (f: internet)

Fazar menjelaskan, pers itu bukan pekerjaan atau manusia hina dan bukan juga pekerjaan rendahan.

"Profesi wartawan memiliki standar kecerdasan, standar pendidikan, dan juga standar penghasilan," katanya.

Fazar menjelaskan, bahwa wartawan memiliki tugas yang sangat mulia, bahkan tidak sedikit wartawan yang jauh lebih berhasil dari pada sekadar jabatan sekda atau gubernur.

Harus diketahui, lanjutnya, tidak sedikit wartawan dengan penguasaan ilmunya, kemudian mereka mampu bersaing di luar negeri.

Bahkan di dalam negeri ini, kata Fazar, tidak terhitung jumlah wartawan yang telah berhasil menjadi orang-orang perpengaruh.

Sebut saja Muhammad Yamin, wartawan yang kemudian dikenal sebagai sastrawan, politisi, pakar hukum, serta pengamat sejarah.

Kemudian, lanjut Fazar, siapa yang tidak kenal dengan Wakil Presiden RI pertama Mohammad Hatta, beliau adalah seorang wartawan pada zamannya.

"Lalu apakah seorang Sekda Riau juga tidak kenal dengan Ki Hajar Dewantara, Adam Malik, Tan Malaka serta Tirtoadisuryo. Mereka semua adalah pahlawan bangsa yang lahir dari 'rahim' pers. Kami adalah pejuang demokrasi yang tak pantas dihina dan direndahkan," katanya.

Menurut Fazar, seorang sekelas sekda harusnya memiliki etika dan moral yang baik, jangan asal keluar omongan tanpa dipikirkan dampak dan akibatnya.

Seperti ungkapan Profesor JE Sahetapy, demikian Fazar, pejabat itu harusnya berbicara tidak seperti ayam tanpa kepala. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

X