Namun saat dicegat wartawan, ia memberi jawaban yang mengundang tanya: “Saya hanya menemui teman.”
Ketika ditanya siapa teman yang dimaksud, Mulya gelagapan. “Tidak ada,” katanya sembari buru-buru meninggalkan lokasi pemeriksaan.
Desakan Menyasar Korporasi
Aktivis lingkungan dari Jikalahari, , mendesak Satgas dan penegak hukum tidak berhenti pada petani kecil.
Ia menekankan pentingnya menindak tegas korporasi besar yang merusak kawasan konservasi.
“Penegakan hukum jangan tebang pilih. Tindak tegas korporasi dan cukong sawit. Kawasan konservasi harus dipulihkan, bukan terus-menerus dikompromikan,” tegasnya dalam pernyataan tertulis kepada redaksi.
Ia juga menyerukan transparansi data dan akuntabilitas penindakan. “Jangan ada lagi korporasi yang berlindung di balik abu-abunya izin atau pembiaran masa lalu,” ujar Okto.
Upaya konfirmasi kepada pihak RAPP tak membuahkan hasil. Pesan WhatsApp yang dikirimkan media ke Aji, staf komunikasi perusahaan, tidak mendapat balasan hingga berita ini diterbitkan.
Kasus Tesso Nilo bukan semata konflik agraria, tapi juga ujian bagi keberanian negara dalam menghadapi korporasi besar.
Ketika akasia berganti sawit dan taman nasional berubah menjadi ladang komoditas, yang dipertaruhkan bukan hanya kawasan konservasi, melainkan kredibilitas penegakan hukum itu sendiri. ***