1,87 Juta Rakyat Sudah Putus Asa, Negara Telat Ciptakan Pekerjaan Berkualitas

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 10 Desember 2025 | 08:56 WIB
Ilustrasi. (f: kompas.com)
Ilustrasi. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Putus asa mencari kerja lalu tidak bekerja menjadi fenomena pada 2025.

Laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebut fenomena ini perlu diperhatikan sebagai sinyal kebijakan yang penting.

Pada Februari 2025, terdapat 1,87 juta penduduk Indonesia yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa, berdasarkan data Sakernas 2024–2025.

Jumlah ini naik 11 persen dari Februari 2024 yang berada di angka 1,68 juta orang. "Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi 'mencari kerja' menjadi 'menyerah', yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia," ungkap laporan Labor Market Brief.

International Labour Organization (ILO) menilai discouraged workers atau mereka yang putus asa dalam hal pekerjaan sebagai bagian dari labour underutilisation, yaitu kelompok yang ingin bekerja tetapi tidak terserap karena berbagai hambatan yang tidak selalu tercermin dalam angka pengangguran terbuka.

ILO dan Bank Dunia juga memandang discouraged workers sebagai gejala dini rapuhnya dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Fenomena ini memang bukan hanya terjadi di Indonesia. ILO mencatat pola serupa muncul di banyak negara berpendapatan menengah.

Dalam Labor Market Brief disebutkan bahwa sejumlah lembaga pembangunan menemukan sulitnya mencari pekerjaan berkualitas di Indonesia.

"Laporan Bank Dunia tentang Pathways to Middle Class Jobs menyimpulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah dan mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah pertama atau lebih rendah," demikian dijelaskan. 

Beberapa negara berkembang sudah berhasil memperkuat industri manufaktur berorientasi ekspor serta mengembangkan jasa modern. Namun Indonesia dinilai tertinggal dalam penciptaan pekerjaan formal dengan produktivitas menengah.

"Akibatnya, proses pencarian kerja menjadi semakin kompetitif bagi pencari kerja yang pendidikannya rendah, pengalaman kerjanya minim, atau keterampilannya tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang lebih modern," penjelasan dalam laporan karya Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.E. ini.

Bank Dunia juga menyoroti lemahnya sistem informasi pasar kerja dan layanan penempatan kerja di Indonesia. Dampaknya, pencari kerja sering tidak memiliki informasi yang jelas tentang lowongan maupun keterampilan yang dibutuhkan.

Karena itu, wajar bila sebagian warga yang sebelumnya aktif mencari pekerjaan kini merasa upaya mereka tidak realistis untuk dilanjutkan.

Tingkat pendidikan SD paling banyak putus asa Penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa paling tinggi berasal dari kelompok berpendidikan SD atau tidak tamat SD, dengan proporsi mencapai 50,07 persen atau lebih dari separuh total kelompok putus asa.

Angka ini menunjukkan bahwa bukan sekadar kurangnya lowongan pekerjaan, tetapi kelompok berpendidikan rendah menghadapi hambatan struktural yang jauh lebih dalam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Hore! Bansos PKH Tahap 3 2026 Segera Cair

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:43 WIB

Utang Luar Negeri RI Tembus Segini

Jumat, 17 Juli 2026 | 08:29 WIB

Kemenaker Buka Program Magang Nasional 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 18:50 WIB

Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka Hari Ini

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:48 WIB
X