Mari Mengenal DME, yang akan Menggantikan LPG pada 2027

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 21:23 WIB
Proyek besar untuk menggantikan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) dengan gas lainnya, yakni Dimethyl Ether (DME), terus dikebut pemerintahan era Prabowo Subianto.
Proyek besar untuk menggantikan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) dengan gas lainnya, yakni Dimethyl Ether (DME), terus dikebut pemerintahan era Prabowo Subianto.

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Proyek besar untuk menggantikan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) dengan gas lainnya, yakni Dimethyl Ether (DME), terus dikebut pemerintahan era Prabowo Subianto.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan produksi massal gas DME bisa terealisasi pada 2027. DME sendiri dikembangkan karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

DME dapat menekan impor gas LPG sebesar 1 juta ton per tahun, sehingga akan ada penghematan devisa impor LPG sebesar Rp 9,1 triliun rupiah per tahun, serta akan menambah investasi sebesar 2,1 miliar dollar AS.

Percepatan realiasi DME sebagai pengganti LPG sendiri tercantum sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional yang diatur dalam Perpres No 109 Tahun 2020 yang diteken di era Jokowi.

Dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, seperti dilansir kompas.com, DME adalah sebutan lain untuk gas batubara.

DME diarahkan terutama sebagai subtitusi penggunaan LPG yang pada awalnya digunakan untuk mensubtitusi minyak tanah.

Proyek gasifikasi batubara ini sangat vital bagi perekonomian Indonesia, karena 75 persen penggunaan LPG di dalam negeri itu berasal dari impor. Sementara gas batubara sepenuhnya berasal dari dalam negeri.

Selain itu, harga DME juga jauh lebih dibandingkan dengan LPG. Krakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG.

Lantaran nyaris sangat mirip, gas batubara ini dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, penanganan, dan penyimpanannya. Sehingga bila LPG diganti dengan DME, maka tak banyak infrastruktur baru yang perlu dibangun.

Kelebihan lain DME adalah bisa diproduksi dari berbagai sumber energi, tak hanya dari batubara, tapi juga bisa diproduksi bahan yang dapat diperbarui seperti biomassa, limbah dan Coal Bed Methane (CBM).

Namun saat ini, batu bara kalori rendah dinilai sebagai bahan baku yang paling ideal untuk pengembangan gas DME.

DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal/Kg, sementara kandungan panas LPG senilai 12.076 Kcal/Kg.

Kendati begitu, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi sehingga kalau dalam perbandingan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 berbanding 1,6.

Pemilihan gasifikasi batubara untuk subtitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan. DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen.

Di samping itu, keunggulan lainnya dari DME adalah kualitas nyala api yang dihasilkan lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Hore! Bansos PKH Tahap 3 2026 Segera Cair

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:43 WIB

Utang Luar Negeri RI Tembus Segini

Jumat, 17 Juli 2026 | 08:29 WIB

Kemenaker Buka Program Magang Nasional 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 18:50 WIB

Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka Hari Ini

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:48 WIB
X