Harga Beras Tak Kunjung Turun, Pengamat Pertanian Bilang Begini

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 12:37 WIB
Ilustrasi beras. (f:  kompas.com)
Ilustrasi beras. (f: kompas.com)

“Surplus produksi menurun. Ini terkait pola produksi padi yang musiman. Seperti pola puluhan tahun lalu, produksi di musim gadu (Juni-September) mulai menurun. Produksi lebih rendah dari musim panen raya (Februari-Mei),” paparnya.

“Ujung dari tiga kondisi di atas, harga gabah di pasar akan tetap tinggi. Ketika harga gabah tinggi, harga beras juga akan tetap tinggi. Tiga penyebab ini saling terkait dan saling memperkuat,” beber Khudori.

Untuk meredakan lonjakan harga, pemerintah perlu mengambil langkah berani.

Pertama, relaksasi penyaluran SPHP agar beras mengalir deras ke pasar, dengan pengawasan ketat untuk mencegah penyelewengan.

Kedua, menghentikan penyerapan Bulog melalui skema maklun dan mengalihkan fokus ke penyaluran stok yang kini menumpuk hingga 4 juta ton di gudang Bulog.

Ketiga, menarik Satgas Pangan dari peran sebagai “polisi ekonomi” karena justru menimbulkan ketidakpastian usaha dan memicu sinyal palsu di pasar.

Selain itu, pemerintah juga didesak menyesuaikan kembali HET beras. Menurutnya, akar dari kisruh perberasan adalah ketidakcocokan antara HPP gabah yang sudah naik dengan HET beras yang tetap ditekan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Hore! Bansos PKH Tahap 3 2026 Segera Cair

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:43 WIB

Utang Luar Negeri RI Tembus Segini

Jumat, 17 Juli 2026 | 08:29 WIB

Kemenaker Buka Program Magang Nasional 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 18:50 WIB

Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka Hari Ini

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:48 WIB
X