Harga Beras Tak Kunjung Turun, Pengamat Pertanian Bilang Begini

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 12:37 WIB
Ilustrasi beras. (f:  kompas.com)
Ilustrasi beras. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM – Warga di berbagai daerah semakin terjepit oleh harga beras yang tak kunjung turun.
Alih-alih membaik, harga terus merangkak naik meski pemerintah mulai mengintervensi pasar.

Pengamat Pertanian, Khudori, mengatakan klaim penurunan harga beras di ritel modern oleh pemerintah tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.

Merujuk catatan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS), pada pekan kedua Agustus 2025, harga rata-rata nasional beras medium di Zona I tercatat Rp 14.012 per kilogram (kg) dan premium Rp 15.435 per kg.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang berada di posisi Rp 13.853 per kg untuk medium dan Rp 15.310 per kg untuk premium. Keduanya melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Situasi serupa juga terjadi di Zona II. Harga beras medium dan premium masing-masing Rp 14.875 per kg dan Rp 16.625 per kg. Padahal, sebulan sebelumnya harga medium di zona ini Rp 14.666 per kg dan premium Rp 16.458 per kg.

Khudori menilai ada tiga sebab utama mengapa harga beras sulit turun.

Pertama, operasi pasar alias Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Perik Bulog berjalan lamban. Dari 14 Juli - 19 Agustus 2025, Bulog baru menyalurkan 44.813 ton beras SPHP, rata-rata hanya 1.211 ton per hari.

Jumlah itu terlalu kecil untuk menekan harga di tengah pasar yang sedang “lapar” beras.

“Operasi pasar SPHP belum efektif. Sejak disalurkan kembali mulai 14 Juli lalu, Bulog baru mengalirkan 226.005 ton beras SPHP. Itu hitungan sampai 19 Agustus 2025,” ujar Khudori kepada Kompas.com, Kamis (21/8/2025).

Kedua, Bulog masih agresif menyerap gabah dari petani lewat skema maklun.

Dengan posisi sebagai mitra dominan, Bulog hampir selalu menang dalam perebutan gabah, meskipun harga sudah tinggi hingga Rp 8.000 per kilogram. Akibatnya, harga gabah semakin melambung.

Padahal, secara teori, Bulog semestinya hanya turun tangan bila harga jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kg.

Ketiga, produksi beras nasional memang tengah turun mengikuti pola musiman.

Data Kerangka Sampel Area BPS menunjukkan surplus beras pada Juli, Agustus, dan September masing-masing hanya 0,22 juta ton, 0,48 juta ton, dan 0,56 juta ton.

Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan Maret dan April yang mencapai 2,64 juta ton. Dengan suplai yang menipis, persaingan membeli gabah kian sengit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Hore! Bansos PKH Tahap 3 2026 Segera Cair

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:43 WIB

Utang Luar Negeri RI Tembus Segini

Jumat, 17 Juli 2026 | 08:29 WIB

Kemenaker Buka Program Magang Nasional 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 18:50 WIB

Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka Hari Ini

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:48 WIB
X