DALAM rangka menghadapi Pemilu 2024, terjadi fenomena menarik yang menghiasi proses pencalonan legislatif di Partai Golkar Riau. Fenomena ini telah menjadi hal yang khas dan selalu muncul dalam setiap periode pemilihan.
Namun, sayangnya belum terlihat upaya serius untuk memperbaiki fenomena ini. Apa yang sebenarnya menjadi inti dari fenomena ini?
Pada saat ini, partai politik dihadapkan pada kesulitan dalam mencari calon legislatif yang memiliki "potensi" untuk diusung pada Pemilu 2024 mendatang.
Kendalanya berasal dari mandeknya proses pengkaderan di dalam partai tersebut.
Tantangan utama yang dihadapi adalah memenuhi syarat kuota perempuan sebesar 30 persen, yang seringkali sulit dicapai. Masalah ini terjadi setiap kali partai hendak mendaftarkan calonnya di daerah pemilihan (dapil) tertentu.
Dalam usaha untuk memenuhi kuota perempuan, nampaknya partai mengandalkan partisipasi kader perempuan yang bersedia maju. Bahkan, partai mengeluarkan biaya untuk mengurus administrasi persyaratan calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang terpenting adalah mendaftar dan memenuhi kuota, karena kurangnya kader perempuan yang bersedia maju.
Saya menyebut fenomena ini sebagai "Kambuhan Kala Pemilu." Situasi di mana parpol mengalami "krisis kader" dalam rangka berpartisipasi dalam Pemilu 2024.
Sebagian besar dana partai seharusnya digunakan untuk operasional partai dan kampanye menjelang Pemilu 2024, namun sayangnya banyak digunakan untuk kegiatan seremonial yang kurang berdampak.
Belum lagi, daftar calon seringkali diisi oleh kerabat, saudara, dan orang-orang yang memiliki hubungan pribadi dengan anggota partai. Akibatnya, banyak pemilih yang bingung saat berada di bilik suara, karena banyak calon yang tidak dikenal dalam dunia politik.
Melihat fenomena-fenomena di atas, Partai Golkar Riau harus mengadopsi strategi baru yang inovatif. Strategi ini harus mampu menghasilkan calon legislatif yang mencukupi, sekaligus meraih dukungan dari pemilih dalam Pemilu mendatang.
Strategi tersebut perlu bersifat inkremental dan berkelanjutan, serta didasarkan pada pemahaman mendalam tentang harapan pemilih di tahun 2024. Saat ini, Partai Golkar Riau belum memiliki hal tersebut.
Partai tersebut harus segera mengambil langkah untuk merekrut lebih banyak kader yang berkomitmen dalam dunia politik. Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan.
Kedua faktor ini akan menjadi kunci keunggulan sebuah partai politik dibandingkan dengan pesaingnya.
Seluruh potensi sumber daya partai dan calon legislatif harus dimanfaatkan dengan baik, termasuk peralatan dan teknologi canggih, jaringan yang luas, dan keahlian yang tinggi. Selain itu, citra positif juga harus dibangun.
Partai Golkar Riau harus bekerja lebih keras dalam Pemilu 2024 kali ini. Jika tidak, mereka berisiko kalah dalam persaingan demokrasi.