kolom

Sarasah Sonsang Festival 2023 Sukses, Bupati Agam Janji Jadi Agenda Tahunan Pariwisata

Minggu, 30 April 2023 | 15:00 WIB
Wisuda tahfidz diarak pakai bendi keliling beberapa jorong di Kenagarian Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. (f: istimewa)

Catatan Mursyid Sonsang

SONSANG adalah salah satu jorong yang terletak di Kenagarian Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Berjarak sekitar 8 km dari Kota Bukittinggi.

Jorong Sonsang dikelilingi bukit barisan dan hamparan sawah. Di pinggir bukit, ada objek wisata berupa embung yang dinamakan Tirtasari dan Air Terjun 12 Tingkat. Objek wisata ini cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Kehadiran objek wisata ini cukup berarti bagi warga Sonsang, membantu perekonomian masyarakat dari jualan, parkir, dan penginapan. Hanya saja, belum ada warga yang berjualan souvenir khas daerah ini.

Agar wisatawan yang datang tidak saja menikmati objek wisata yang telah ada, selama liburan Hari Raya Idul Fitri tahun 2023 ini digelar Sarasah Sonsang Festival (SSF). Festival digelar dari tanggal 23 s/d 30 April 2023 dengan berbagai kegiatan, seperti mamancing belut, paju rakit, trabas motor ke kebun, wisuda hafalan Al-Qur'an, dan MTQ.

Menurut Akmal Yusmar, penggagas SSF ini, untuk memeriahkan Idul Fitri yang bertepatan dengan masa liburan dan menghidupkan kembali tradisi lama yang sangat peduli dengan lingkungan

"Seperti kebiasaan orang Minangkabau pulang kampuang dari rantau dengan membawa anak anaknya, mereka lahir di rantau. Tidak mengenal tradisi yang pernah dilakukan bapaknya dahulu," jelas Akmal yang juga konsultan wisata dan digital komunikasi ini.

Contohnya mamancing belut di sawah, kalau bahasa Sonsangnya mangili baluik. Dulu, masyarakat Sonsang memiliki tradisi ini. Biasanya dilakukan saat menanam padi sampai padi menghijau berumur satu bulan.
Pada saat ini, belut membuat lubang di dalam pematang.

Mata pancingnya dibuat sendiri dengan membengkokkan jari-jari sepeda dan dikikir ujungnya agar tajam. Kemudian, diikat dengan tali yang dijalin. Tali terbuat dari pelepah pisang.

Umpan yang sangat disenangi belut adalah cacing yang besar, disebut cacing gilo. Mata pancing dikaitkan dengan cacing. Dimasukan ke dalam lobang belut dengan diputar-putar dengan jari agar perlahan masuk ke dalam lubang.

"Saya memberikan apresiasi kegiatan kearifan lokal ini. Saya jadi peserta memancing baluik ini. Mengenang waktu kecil dulu," ujar Marfendi, Wakil Walikota Bukittinggi. Marfendi tidak sia-sia jadi peserta, berhasil memancing beberapa ekor baluik sawah yang cukup besar. Lepaslah kepuasan dan ketawanya.

Selain itu, acara yang tidak kalah menariknya adalah paju rakik (rakit) di Embung Tirtasari. Dahulu, warga Sonsang mengunakan rakik untuk transportasi di embung itu. Rakik terbuat dari buluh yang disusun, lalu diikat satu dengan yang lain dengan panjang empat meter sampai enam meter.

Agar rakik ini melaju, dikayuh dengan kayu. Makin tinggi teknik mengayuh makin cepat lajunya rakik ini. "Rakik ini sudah tidak dikenal oleh generasi sekarang, ini kita hidupkan lagi, wisatawan yang ingin mengelilingi embung harus memakai rakik," jelas Akmal, mantan jurnalis Kompas dan Mola TV ini.

Kegiatan moderen juga digelar yaitu bagi para kelompok motor trail yang dikemas dalam trabas motor ka parak (kebun) Konsep kegiatan ini para pengendera motor trail ini menjajal rute-rute orang ka parak di perbukitan bukit barisan. Jalan yang dilalui harus jalan yang telah ada, tentu dengan tidak merusak tanaman.

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB