kolom

Creator Pers: Evolusi Wartawan di Era Attention Economy

Minggu, 28 Juni 2026 | 20:55 WIB
CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono. (f: Ist)

Istilah ini bukan sekadar permainan kata. Ia adalah pengakuan terhadap perubahan besar yang sedang berlangsung di industri media.

Selama bertahun-tahun, industri pers sering memosisikan diri seolah berbeda dengan industri kreatif. Seolah-olah media hanya memproduksi berita, sementara industri kreatif menghasilkan konten. Padahal jika dilihat dari proses produksinya, media hari ini adalah salah satu industri kreatif terbesar di Indonesia.

Produk yang dihasilkan media bukan lagi sekadar teks. Yang diproduksi setiap hari adalah video pendek, video panjang, podcast, infografik, carousel, siaran langsung, newsletter, hingga konten interaktif. Semua itu merupakan karya kreatif yang lahir dari proses editorial.

Perbedaannya hanya satu. Creator Pers menghasilkan karya kreatif yang berbasis fakta dan verifikasi.

Perubahan ini semakin nyata sejak perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal di era digital. Kita hidup dalam apa yang sering disebut sebagai attention economy. Nilai sebuah konten tidak lagi hanya diukur dari kualitas produksinya, tetapi juga dari kemampuannya merebut perhatian publik di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti.

Pers tidak mungkin menghindari kenyataan ini.

Jika berita tidak mampu menarik perhatian, maka berita itu tidak akan dibaca. Jika video jurnalistik gagal menghentikan jempol pengguna media sosial, maka informasi yang benar akan kalah oleh konten yang lebih sensasional. Dalam situasi seperti ini, kemampuan menciptakan konten yang menarik bukan lagi sekadar nilai tambah. Ia telah menjadi kompetensi inti seorang pekerja pers.

Inilah sebabnya mengapa ruang redaksi modern kini membutuhkan kemampuan yang jauh melampaui keterampilan menulis.

Wartawan harus memahami visual storytelling. Harus mampu berbicara di depan kamera. Harus menguasai editing video. Harus memahami optimasi platform digital. Harus mampu membaca data audiens. Bahkan mulai akrab dengan kecerdasan buatan untuk mempercepat proses produksi tanpa mengorbankan akurasi.

Mereka bukan hanya reporter.

Mereka adalah produser konten jurnalistik.

Mereka adalah kreator informasi.

Mereka adalah Creator Pers.

Sayangnya, perubahan besar ini belum sepenuhnya diikuti oleh cara kita membangun ekosistem profesi. Banyak lembaga pendidikan jurnalistik masih menyiapkan lulusan untuk ruang redaksi yang sudah berubah. Banyak perusahaan media masih mengukur produktivitas dengan paradigma lama. Bahkan sebagian regulasi masih memandang wartawan sebagai profesi yang bekerja hanya untuk media konvensional.

Padahal, hari ini masyarakat tidak lagi mencari berita berdasarkan merek media. Mereka mencari informasi melalui platform. Berita pertama yang mereka lihat bisa datang dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau WhatsApp. Bagi generasi muda, halaman depan media bukan lagi beranda situs berita, melainkan halaman “For You”.

Halaman:

Tags

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB