A yang bertugas di monkey board terseret dan tertimpa konstruksi menara, sementara crane yang terparkir ikut terdampak.
Ketiga pekerja dievakuasi, namun A dinyatakan meninggal di lokasi.
13 Korban Sejak 2022
Kecelakaan di Rig AU-17 bukan kasus tunggal.
Sejak 2022, berdasarkan penelusuran pemberitaan serta data instansi pengawas ketenagakerjaan, terdapat 13 korban meninggal dalam insiden yang berkaitan dengan operasi migas di WK Rokan.
Di antaranya kasus pada 22 April 2025 ketika dua balita, F.W (2) dan F.H (4), tenggelam di kolam bekas kegiatan drilling di Dusun Mekar Sari, Rokan Hilir.
Sebelumnya, 24 Februari 2023, tiga pekerja kontraktor — Hendri (54), Ade (37), dan Dedi (44) — meninggal setelah terjatuh ke kontainer limbah di fasilitas CMTF Balam Selatan, Rokan Hilir.
Pada 18 Januari 2023, seorang pekerja perusahaan rekanan, DS (22), tewas tertimpa besi POSV dari Rig 06.
Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau juga mencatat korban meninggal pada 2022, yaitu SDI dari PT Elnusa Fabrikasi Konstruksi (27 Juli 2022); FDI dari PHR (30 Juli 2022); HTO dari PT Asrindo Citra Seni (17 November 2022); YDI dari PT Asia Petrocom Service (20 November 2022); EZN dari PT Andalan Permata Buana (20 November 2022); dan SPD dari PT Berkat Karunia Pahala (24 Desember 2022).
Dengan kecelakaan maut di Rig AU-17, jumlah korban meninggal di WK Rokan sejak dikelola PHR mencapai 13 jiwa.
Dorongan Investigasi Menyeluruh
Berulangnya insiden memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di wilayah operasi migas tersebut.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), PHR berkewajiban memastikan standar keselamatan tertinggi pada seluruh aktivitas operasional.
Hingga berita ini diposting, PHR belum mengumumkan penyebab teknis robohnya Rig AU-17 maupun langkah korektif lanjutan.
Pemerintah dan instansi pengawas diminta melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan perlindungan bagi tenaga kerja dan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasi migas. ***