Hal ini membuat pengguna rentan terhadap berita hoaks dan framing yang misinformasi.
Tidak semua masyarakat Indonesia mempunyai pengetahuan tentang digital atau literasi keuangan yang memadai.
Tentu hal ini merupakan tantangan besar bagi Indonesia.
Untuk menjawab tantangan tersebut perlu kesadaran dan kolaborasi dari berbagai pihak seperti kolaborasi antara regulator, pelaku industrri, media, dan masyarakat.
Untuk menangani entitas ilegal, saat ini pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan sudah menginisiasi Satuan Tugas Waspada Investasi.
Tentunya, langkah ini perlu dibekali dengan edukasi yang lebih masif.
Untuk itu, diperlukan beberapa langkah ampuh untuk mengatasi permasalahan di atas, antara lain:
Edukasi dari Pihak Terkait
Salah satunya, yaitu Otoritas Jasa Keuangan yang melakukan kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat seperti guru, dosen, pegawai negeri sipil, polisi, dan lain sebagainya. Jika memungkinan, bentuk nyata dari edukasi ini dilaksanakan menjadi program rutin bulanan bahkan mingguan.
Edukasi Sejak Dini
Mulai dari jenjang Taman Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi perlu menanamkan pengetahuan tentang literasi keuangan digital. Misalnya dalam metode pembelajaran, seorang guru bisa membuat suasana belajar yang aplikatif, artinya bisa bermain sambil belajar.
Peran Keluarga Sangat Penting
Keluarga adalah orang yang paling dekat di setiap individu manusia, oleh karena itu peran keluarga sangat penting untuk membentuk pola pikir lingkungan keluarga yang bijak dan kritis dalam menerima sebuah informasi.
Hal ini, dalam sebuah keluarga harus membiasakan sikap dan pola pemikiran yang positif.
Dapat disimpulkan bahwa hoaks dan framing informasi adalah tantangan sekaligus masalah besar dalam ekosistem keuangan digital di Indonesia.