Menghadapi soal ini Sang Tokoh mencoba berpikir jernih dan tabah. Dia memaklumi jika reaksi masyarakat sedemikian besar.
Publik mencari tuntunan dan panutan. Tatkala hal ini dipandang masyarakat tak ada lagi pada dirinya, wajarnya masyarakat sementara menjauhinya.
Sang Tokoh pun mengambil keputusan dan mengumumkannya ke publik. “Dengan munculnya kasus ini, saya memutuskan sementara untuk tidak memberikan ceramah, pelatihan, dan sejenisnnya lebih dahulu, sampai kasus ini terungkap dengan jelas.”
Sang Tokoh sendiri tetap tenang menghadapi kasus ini. Dia percaya sepenuhnya, dalam memberikan kebaikan, Allah sering melalui jalan yang tidak manusia ketahuai. Sebuah jalan yang sekaligus untuk menguji keimanan manusia.
Sang Tokoh berkeyakinan selama ini dirinya telah diberikan kenikmatan yang luas biasa, sehingga kejadian yang menimpanya kali ini hanya ujian kecil saja. Ada tujuan lebih besar dari ujian ini sendiri .
Bagi Sang Tokoh melorotnya pengundang secara dratis tak ada masalah sekali. Sebaliknya cap dia penipu berkedok agama, itulah yang dia percaya harus diluruskan dan dibersihkan.
Dia percaya Allah kelak juga bakal membersihkan namanya lagi.
Sang Toloh hanya akan berjuang seoptimal mungkin mengharumkan kembali namanya. ***
Bersambung.
Wina Armada Sukardi, wartawan senior, advokat, sastrawan, Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah.