Kedua wartawan ini rupanya masih berusaha untuk mendapatkan uang. Mereka kurang mengubris keterangan Sang Tokoh.
“Kalau boleh tahu, kalian dari media mana? Mungkin saya kenal dengan pimpinann kalian?”
Keduanya tidak memberikan jawaban yang jelas. Suara mereka seperti berkumur. Seketika Sang Tokoh faham, inilah mungkin yang sering dia dengar sebagai wartawan abal-abal.
“Begini aja. Kalau untuk urusan menjalankan profesi kewartawanan, terus terang saya tak ada anggaran.Tapi kalau kalian butuh bantuan, saya minta alamat kalian, biar orang saya mengantarkan bantuan ke rumah. Itung-itung bansos atau bantuan sosial pribadi.”
Wajah keduanya nampak tak suka. Keduanya melengos begitu saja tanpa pamit.
Setelah kedua orang yang mengaku “wartawan” itu pulang, Sang Tokoh segera menghubungi teman SMP dan SMA-nya yang viral di media sosial tu.
Sang Tokoh dan temannya itu ada dalam satu WhatApps Group (WAG) sehingga saling mengetahui nomor HP masing-masing.
Sekali dihubungi Sang Tokoh, nomor HP teman SMP dan SMA yang menyerangnya itu, langsung terhubung.
“Hallo,” kata Sang Tokoh menyapa lebih dahulu.” …”
“Oh ini pasti mau ngomongin pernyataan saya di media sosial ya?” balas suara di sana tanpa basa-basi, apalagi pendahuluan.
“Ya betul!”
“Selama soal ini belum terkonfirmasi. Belum terjawab dengan tuntas, sebaiknya kita gak usah berhubungan dulu aja yaa,” jawaban dari pihak sana tegas sekali.
“Bukan apa-apa ,nanti kita dituduh berkonspirasi. Selain itu, takutnya saya juga nanti dianggap cuma mau bikin konten yang kontroversial dan mau menarik perhatian publik aja. Supaya banyak viewer-nya atau penontonnya.”
“Begitukah?”
“Ya. Padahal saya sangat serius. Saya tidak suka agama dijadikan kedok! Saya juga gak suka orang yang suka menipu publik. Saya….”