“Apakah Anda akan menuntutnya melalui jalur hukum?” tanya wartawan lain.
“Saya pribadi tidak akan menuntut. Tapi tidak tahu kalau pendapat keluarga.”
Wartawan lainnya bertanya,”Langkah Anda selanjutnya apa?”
“Pertama-tama, melalui Saudara-saudar, saya klarifikasi. Selanjutnya saya coba berdialog dengan kawan saya itu. Lebih lanjutnya tergantung keadaan.”
“Kira-kira apa motivasinya?”
“Mana saya tahu? Tanya saja ke yang bersangkutan dong!”
Wawancara selesai. Para wartawan sebagian sibuk mengirim berita ke kantornya masing-masing. Setelah itu mereka pada pergi. Hanya dua orang “wartawan” tidak ikut pergi. Keduanya menghampiri Sang Tokoh.
“Bisa tolong kami, Bang” kata salah seorang dari mereka.
“Maksudnya gimana?” tanya Sang Tokoh tak faham.
“Bantulah kami uang pulsa, Bang.”
Baru Tokoh kita sadar, kedua wartawan ini minta uang. “Maaf ya, kalau untuk itu saya tidak dapat memberikan sama sekali. Saya menghormati ketentuan Dewan Pers yang tidak memperkenankan wartawan menerima imbalan ketika melakukan tugasnya.”
“Seikhlasnya aja, Bang” timpal wartawan temannya.
“Kami dapat koordinasi beritanya supaya tidak memberatkan Bang,” tambah yang satu lagi.
“Maaf ya, saya tetap tidak memberikan dalam konteks ini. Apapun alasannya,”tegas Sang Tokoh.
‘’Lagi pula follower saya jauh lebih banyak dari jangkuan pemberitaan kalian.”