“Jangan percaya, dan kita jangan mau diperdaya dan ditipunya. Semua demi cari duit aja. Kelas bajingan. Dia melakukan berbagai kepura-puraan biar mendapat simpati.
Hati-hati, nanti kena hipnotisnya agar kita mengikuti dan empati padanya. Terus buntut-buntutnya diharapkan duit mengalir masuk ke pundi-pundinya. Tipu-tipu murahan. Jangan percaya!
Bagaimana mau faham Qur’an, baca Qur’an aja gak becus!
Sekali lagi, jangan percaya pada dia. Lebih baik menjauh dari dirinya.
Saya ini temannya dari SMP dan SMA, jadi faham wataknya. Gak ada apa-apanya kemampuan dia. Sudah besaran eh malah jadi tukang kibul. Jadi tukang tipu.”
Supaya lebih menyakinkan, di konten lain temannya itu juga mengajaknya tarung.
“Saya dapat pastikan dia hanyalah penipu berkedok agama. Berkedok memiliki kekuatan supra natural. Itu Cuma alat mengeduk duit rakyat.
Kalau saya bohong dan dia benar, saya berani menantangnya. Dengan cara apapun, saya berani melawan.
Nanti bakal saya telanjangi kebohongannya. Akan saya buka kedok penipuannya. Saya tunjukan ke semua, dia raja penipu.
Ayo kita tarung terbuka! Jangan mengelak. Jangan pengecut. Udah penuh kemunafikan kamu !”
Konten itu hanya beberapa hari sudah ditonton lebih dari 15 juta orang. Tak hanya di dalam negeri, video itu telah ditonton lebih 1 juta orang luar negeri, khususnya di kawasan ASEAN.
Setelah melihat konten itu, depan rumahnya sudah dikerumuni wartawan. Sang Tokoh telah menjadi selebritas. Sudah jadi orang terkenal. Orang yang selama ini memakai dakwah agama. Jika sekarang ada yang mendakwanya tentu beritanya akan buming. Akan hits.
Pantaslah jika ada konten dari kawan SMP dan SMA yang dianggap membongkar semua kelakukannya mendorong wartawan menyerbunya. Mereka sudah berkumpul di depan pagar luar rumah Sang Tokoh sejak pagi hari memburu informasi perkara ini.
Melihat itu, Sang Tokoh pun membuka pintu pagar dan mempersilakan para wartawan masuk ke ruang teras rumahnya. Langsung para wartawan pun setengah berlarian masuk seakan bakal ketinggalan pesawat.
Sampai di dalam Sang Tokoh dikerumuni para wartawan. Mereka langsung berebutan mengajukan pertanyaan. Kamera dan perekam suara, serta HP disorongkan kepada Sang Tokoh. Dia mengangkat kedua tangannya meminta para wartawan untuk lebih tertib dan mendengarkankan penjelasan.