Oleh: Wina Armada Sukardi
BUNYI telepon genggam Sang Tokoh kembali berdering. Dilihatnya pengirimnya, salah satu temannya di SMP.
“Hallo…” sapa Sang Tokoh.
“Iya Hallo. Udah lihat di medsos belum?” kata temannya yang menelepon, langsung ketujuan tanpa basa-basi.
“Soal apa?”
“Soal apalagi, kalau bukan soal Sang Tokoh.”
“Kenapa memang?”
“Udah tonton dulu, sebelum ambil keputusan. Bisa gawat lho!”
Begitu mematikan telepon, Sang Tokoh langsung mencari konten yang dimaksud. Semula masih sulit, karena banyak konten diri Sang Tokoh lainnya yang memang biasa muncul.
Baru setelah lima menit Sang Tokoh mendapatkan konten yang dicari. Seorang teman dekatnya, sesama teman sekolah dari SMP sampai SMA, menyerang Sang Tokoh dalam beberapa video konten berbeda-beda sekaligus. Si teman SMP dan SMA itu, tapi baik gambar maupun suara dirinya.
“Dia itu aslinya penipu. Pembual. Semuanya sudah direncanakan dengan matang. Mula-mula pura-pura mati suri. Lantas setelah itu, dia tampil sebagai kiai, ustadz atau mubalik. Tampil sebagai orang yang sudah katam agama. Padahal, semua itu kemunafikan. Bohooong besar dia.
Yang benar, jangankan menguasai pemahaman agama, saya tahu dengan tepat, baca Qur’an aja dia tidak mampu. Gak bisa dia. Cuma pura-pura saja.
Demikian pula, dia mencitrakan diri dapat memikiki indra keenam. Itu semua tipu daya doang. Diawali dengan pura-pura koma, agar memberi kesan yang supra natural. Itu cuma siasat belaka. Padahal, dia tak punya kemampuan apa-apa.
Saya kawannya dari SMP dan SMA. Jadi, faham dirinya luar dalam! Dari dulu, dia pelajar yang biasa-biasa saja. Gak punya kelebihan apapun. Jadi, semua sandiwara saja.”
Teman dari SMP dan SMA itu menyerang Sang Tokoh habis-habisan. Pada konten video lainnya, ditayangkan: