kolom

Fekah Tepak, Catatan Syaukani Al Karim

Minggu, 15 Oktober 2023 | 23:10 WIB
Syaukani Al Karim

Mereka menyediakan laman bagi kita yang berpikir, untuk dapat menyesuaikan konsep-konsep adat tersebut dalam konteks kekinian, lewat ungkapan-ungkapan kunci dari setiap konsep adat yang telah mereka sepakati di masa lampau.

Anehnya, justru kita hari ini bertaqlid buta terhadap sesuatu tanpa jelas ujung pangkalnya, menyakralkan sesuatu yang tak suci, dan menyucikan sesuatu yang profan.

Hari ini, pasca kedatangan pengurus LAMR memenuhi undangan Ganjar Pranowo, muncul sejumlah “nabi adat palsu” dan sejumlah orang yang mengaku sebagai “bhiksu dan bhiksuni” adat, menghujat dan mengecam.

Hujatan dan kecaman itu, diikuti pula olah para pengikut yang menelan ajarannya mentah-mentah, seperti serombongan anggota sekte yang patuh.

Para “nabi adat palsu” ini berfatwa, bahwa Tepak itu suci, agung, dan menggerunkan, dan lebih jauh berfatwa, bahwa membawa tepak adalah tanda orang hendak meminang. Lalu mereka, demi mempengaruhi dan menyesatkan orang, menggunakan “hadist-hadist adat” yang maudhu, tertolak, dan dusta.

Sebagai hamba Melayu yang dhaif, saya hanya percaya, bahwa yang berpaku mati dalam adat Melayu adalah “adat sebenar adat”, yang bersumber dari Allah dan Rasul, yang berwaris kepada nabi, berkhalifah kepada Adam, yang bertali dengan kitabullah, yang berinduk kepada ulama, dan yang diikat dengan syarak. Itulah yang dulu dipakai oleh para Perpatih dan Tumenggung, dan itulah yang tidak boleh ditukar ganti.

Itulah yang diiktiraf sebagai adat yang berada dalam kelas “ushul” yang dipakai oleh Orang Melayu, yang keras tak tertakik, yang lunak tak tersudu. Tepak tak berwaris kepada Allah dan rasul, ianya berada dalam wilayah furu” dan dimungkinkan terjadinya perbedaan tafsir dan ikhtilaf.

Sebahagian Tetua Melayu di Riau, dan segelintir “Nabi Adat Palsu”, pada hari ini, mencoba menggiring persoalan jemputan dan walimah Ganjar Pranowo, menjadi sumber cacimaki kepada pengurus LAMR, menuduh LAMR tak beradat dan bahkan menjual adat.

Namun sayangnya mereka lupa, bahwa cara dan bahasa yang mereka gunakan dalam menghujat itu, bukan hanya tidak beradat, tapi bahkan tidak beradab, dan seperti kata seorang sastrawan berkelas nobel, bahwa banyak dari kita : telah menjadi penari yang mengentakkankan kaki dilantai-lantai dansa, dengan menggemerincingkan lonceng-lonceng kebiadaban.

Setelah mencaci maki, lalu dengan jumawa mengatakan bahwa merekalah yang beradat. Menyedihkan memang ketika membaca ucapan orang mengaku memegang adat itu. Sungguh, mereka memang tak pantas dijadikan teladan, sebaliknya merekalah “sempadan” adat yang sebenarnya.

Menjadi Melayu yang “Menjadi”, diukur dengan memiliki ketakwaan, kesantunan, kedermawan, keberanian, berilmu, arif, ramah, memiliki kehormatan, kemampuan menjaga nilai yang tak sekedar kulit, bukan dengan keberanian mencaci maki tanpa melihat kejelasan susur galurnya.

Menjadi Melayu tak selesai dengan berbaju kurung, berkain sampin, dan bertanjak. Meskipun simbol-simbol itu penting, tapi sejatinya menjadi Melayu lebih tinggi dari sekedar itu, yaitu dengan menjadikan nilai-nilai yang ada dalam adat, dalam petatah-petitih, dan tunjuk ajar, sebagai pakaian sejati yang sanggam.

Jadilah Melayu yang semestinya, dan berhentilah menunjukkan kegagalan menjadi Melayu dalam etalase keindonesiaan, dengan melaung-laungkan pembenaran secara membabibuta dalam ruang-ruang ikhtilaf adat. Berhentilah menunjukkan wajah buruk kita di depan cermin dunia.

Syaukani Al Karim
Timbalan Ketua Umum MKA LAMR Riau

 

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB