kolom

Fekah Tepak, Catatan Syaukani Al Karim

Minggu, 15 Oktober 2023 | 23:10 WIB
Syaukani Al Karim

TEPAK dalam konsepsi adat Melayu, bukanlah alat untuk meminang, melainkan simbol adat yang digunakan untuk memulai kata-kata dan berunding, apapun yang hendak dirundingkan.

Orang Melayu memang menggunakan simbol-simbol dalam menjelaskan dirinya, dan tepak dipilih sebagai simbol dari niat diri. Datang bertepak menandakan bahwa kita hendak berunding dengan cara yang baik, santun, dan ikhlas, sementara kalau datang berkeris dengan hulu siap dipegang, menyimbolkan kita hendak datang bergelanggang.

Tuan rumah, dalam konsepsi adat ini, dengan melihat saja apa yang dibawa, sudah dapat menduga maksud baik atau buruk dari yang datang, dari perangkat yang dibawanya.

Sebagai alat pembuka kata dan penunjuk kehalusan budi, maka isi tepak hanya menggambarkan suasana hati pihak yang datang.

Sirih, pinang, kapur, gambir, tembakau, dan kacip, mencerminkan kesiapan jasmani dan rohani, menjelaskan putih dan ikhlasnya hati orang yang datang, dan kacip pula menyimbolkan kesiapan untuk meracik dinamika perundingan menjadi sebuah kata mufakat.

Setelah simbol ketulusan hati diketengahkan, barulah runding dimulai, dan tepak tinggal menjadi penghias. Hajat meminang tidak berada dalam tepak, tapi berada dalam akad yang disampaikan.

Maslahat mudarat adat, mereka tak sekolah tapi tahu mana yang indah, mereka tak pernah mengultuskan sesuatu tanpa ilmu, mereka dapat memosisikan diri mereka sebagai tetua yang berakal, bukan tetua yang ungkal.

Bukan sekali dua pula, para tetua Melayu berijtihad dalam soal adat ini. Ketika orang Melayu menganut kepercayaan “Kapitayan” yang oleh ilmuan Belanda diterjemahkan dengan Animisme, Dinamisme, dan Polytheisme, para Tetua Melayu berijtihad menjadikan kepercayaan sezaman sebagai Adat Sebenar Adat, menjadikan Kapitayan sebagai “Sendi Syarak” dalam setiap perbuatan adat, begitu juga ketika anutan beralih, dan orang Melayu memeluk agama Hindu dan Budha, maka para tetua Melayu menjadikan nilai nilai transendental Hindu/Budha, sebagai sendi adat.

Setelah masuknya agama Islam ke tanah Melayu, setelah raja/sultan dan bangsa Melayu memeluk agama Islam, maka sekali lagi para Tetua Melayu yang cerdas dan arif itu, membuat ijtihad adat baru, dengan mengeluarkan taklimat adat yang bersesuaian dengan Islam, yang berbunyi “adat bersendi syarak, syarak bersendikan kitabullah”.

Tidak hanya itu, para tetua Melayu dan orang-orang pandai masa lampau, bahkan mengganti huruf-huruf yang dipakai, seperti “kaganga” dan “pallawa” menjadi huruf-huruf yang berasal dari aksara Arab.

Ketika ada vokal atau konsonan Melayu yang tidak ada padanannya dalam aksara Arab, maka mereka berijtihad pula, mencipta huruf-huruf baru, seperti “Ga”, “Nga”, “Ca” dan sebagainya.

Sekali lagi saya kagum, akan kepandaian, kecerdasan, kearifan, dan ketinggian mutu gagasan dari orang-orang terdahulu. Mereka paham mana yang mahligai mana yang duli, mana yang agung mana yang profan, dan tahu mana yang sakral mana yang biasa.

Mereka telah berhasil memosisikan diri mereka pada aras tertinggi, dari tiga posisi aras manusia dalam kehidupan menurut Sokrates dan Plato. Aras pertama, mereka yang memiliki ide dan gagasan, lalu kemudian ide dan gagasan itu mempengaruhi dan dipakai orang, aras kedua adalah mereka yang membaca dan memahami peristiwa, dan aras ketiga atau terendah dari makhluk manusia, adalah mereka yang hanya mampu membicarakan/menyalahkan orang, yang hanya pandai menepuk meja, yang hanya pandai berteriak tapi kosong isinya, yang hanya pandai menyalahkan orang lain tanpa solusi, yang hanya tua karena usia, bukan tua dalam ilmu dan kearifan.

Tetua Melayu masa lampau sungguh telah mampu menjadi “nabi adat” yang sejati, mampu memilah yang “naqli” dan “aqli”,. Dengan dalil-dalil yang shahih, mereka bedakan mana yang ushul mana yang furu dalam adat, mana yang “sebenar adat” mana “yang diadatkan”, dan mana pula yang ‘teradatkan”.

Mereka bedakan pula mana yang kulit mana yang substansi, mana yang maslahat, mana yang mudarat, dan mana pula yang syubhat.

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB