JAKARTA, RIAUSATU.COM - Klaim efisiensi sebuah mobil plug-in hybrid tak cukup dibuktikan melalui angka konsumsi bahan bakar di panel instrumen.
Karena itu, Kilat.com, anggota Promedia Group, Selasa (14/7), berkesempatan menguji langsung BYD M6 DM dalam media test drive dengan rute Bandung–Padalarang-Purwakarta–Wanayasa–Ciater–Bandung sejauh sekitar 152 kilometer.
Rute tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Selain melintasi jalan tol, perjalanan juga melewati jalan lurus dengan banyak turunan.
Lalu di jalan biasa, juga menemukan macet di kota Bandung, tanjakan, turunan, dan tikungan. Kondisi ini lebih merepresentasikan penggunaan sehari-hari dibanding sekadar melaju konstan di jalan bebas hambatan.
Sepanjang perjalanan, mobil digunakan dalam mode berkendara otomatis. Pendingin kabin tetap menyala dengan suhu 18-23, kendaraan diisi tiga orang dewasa dengan estimasi bobot sekitar 180–200 kilogram, sementara akselerasi dilakukan dengan kerap pedal gas diinjak cukup dalam untuk mengejar peserta lain.
Artinya, pengujian ini tidak dilakukan dengan teknik eco driving yang lazim digunakan untuk mengejar rekor konsumsi energi.
Kecepatan rata-rata yang tercatat di panel instrumen hanya sekitar 31 km per jam. Namun angka tersebut bukan mencerminkan mobil melaju pelan, melainkan karena rombongan beberapa kali berhenti untuk pergantian lokasi, sesi dokumentasi, dan pengarahan.
Di akhir perjalanan, konsumsi bahan bakar tidak hanya mengacu pada data di panel instrumen. BYD menerapkan metode full to full, yakni mengisi kembali tangki hingga penuh di SPBU untuk mengetahui jumlah bensin yang benar-benar terpakai selama perjalanan.
Hasilnya cukup menarik.
Untuk menempuh jarak sekitar 152 kilometer, bensin yang masuk ke tangki hanya 2,19 liter Pertamax atau senilai Rp35.590.
Tidak Bisa Dinilai dari Bensin Saja
Meski demikian, konsumsi bensin bukan satu-satunya indikator efisiensi pada BYD M6 DM. Sebagai plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), mobil ini juga mengandalkan tenaga listrik sebagai sumber penggerak utama.
Perjalanan dimulai dengan kondisi baterai terisi penuh 100 persen. Hingga mencapai kawasan Ciater, kapasitas baterai turun menjadi sekitar 20 persen.
Saat perjalanan kembali menuju Bandung, sistem regenerative braking memanfaatkan energi deselerasi untuk mengisi ulang baterai sehingga kapasitasnya kembali meningkat menjadi 27 persen saat finis.