Terjadi Gelombang Panas Misterius di Samudra Pasifik, Apa Dampaknya pada Cuaca Global?

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 10:17 WIB
Ilustrasi. (f: kompas.com)
Ilustrasi. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Perairan Pasifik utara mengalami musim panas terhangat yang pernah tercatat dan membingungkan para ilmuwan iklim dunia.

Antara Juli hingga September, suhu permukaan laut tercatat lebih dari 0,25 derajat Celsius di atas rekor tertinggi sebelumnya pada 2022, dikutip dari BBC, Sabtu (18/10/2025), dilansir kompas.com

Lonjakan ini terjadi di wilayah laut yang luasnya sekitar sepuluh kali lipat dari kawasan Mediterania. Meski perubahan iklim diketahui meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas laut, para ilmuwan belum dapat menjelaskan mengapa pemanasan ekstrem ini terjadi begitu lama di kawasan Pasifik utara.

Menariknya, panas ekstra di kawasan yang dijuluki “gumpalan hangat” ini justru bisa berimbas pada musim dingin yang lebih dingin di Inggris, menurut sejumlah peneliti.

Ilmuwan iklim di Berkeley Earth, Zeke Hausfather mengatakan, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi di Pasifik utara.

"Lonjakan suhu di area laut seluas itu sebagai hal yang sangat luar biasa," ujar Hausfather. Analisis terhadap data layanan iklim Copernicus Eropa menunjukkan bahwa suhu rata-rata laut di kawasan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Pemanasan laut global sebenarnya sudah diperkirakan akibat emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Namun, suhu di Pasifik utara kini bahkan melebihi prediksi sebagian besar model iklim, dengan peluang kurang dari satu persen untuk terjadi secara alami dalam satu tahun.

Angin yang lebih lemah dari biasanya pada musim panas lalu mungkin turut memperparah kondisi ini, karena panas dari sinar Matahari lebih banyak tertahan di permukaan laut.

Akan tetapi, menurut Hausfather, hal itu belum cukup menjelaskan fenomena ekstrem ini sepenuhnya. “Ini tentu bukan sekadar variabilitas alami,” kata dia. “Ada faktor lain yang bermain di sini," lanjutnya,

Perubahan aturan bahan bakar kapal diduga menjadi penyebab di balik fenomena ini.

Sebelum tahun 2020, bahan bakar kapal menghasilkan banyak sulfur dioksida, suatu gas berbahaya bagi kesehatan. Namun, bahan ini secara tidak langsung juga menurunkan suhu karena membentuk aerosol, yaitu partikel kecil yang memantulkan sinar Matahari. Baca berita tanpa iklan.

Setelah bahan bakar kapal dibersihkan dari sulfur, efek pendinginan ini berkurang sehingga memunculkan pemanasan laut yang lebih jelas.

"Tampaknya sulfur adalah kandidat utama penyebab pemanasan di kawasan ini,” kata Hausfather.

Selain itu, penurunan polusi udara di China juga diduga berkontribusi. Udara yang sebelumnya kotor turut membantu memantulkan panas Matahari, dan ketika udara menjadi lebih bersih, laut di sekitarnya menjadi lebih hangat.

Gelombang panas laut di Pasifik utara terbukti memengaruhi pola cuaca di kedua sisi samudra. Kondisi ini kemungkinan meningkatkan suhu musim panas ekstrem di Jepang dan Korea Selatan, serta memperburuk badai di Amerika Serikat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Resmi Diperkenalkan, BBM Bobibos Karya Anak Bangsa

Sabtu, 8 November 2025 | 20:32 WIB

Ini Kata Pakar Soal Dampak Etanol pada BBM

Rabu, 8 Oktober 2025 | 09:46 WIB
X