• Senin, 5 Desember 2022

Nasib! Julukan "Emas Cokelat" bagi Komoditas Gambir Hanya Tinggal Kenangan

- Sabtu, 24 September 2022 | 16:26 WIB
  Petani gambir di rumah produksi. (f: internet)
Petani gambir di rumah produksi. (f: internet)

LIMAPULUH KOTA, RIAUSATU.COM - Sejumlah kawasan yang menjadi sentra produksi gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, tengah dirundung kelesuan di bidang ekonomi. Kondisi diperparah dengan kebijakan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, awal September lalu.

Pangkal penyebabnya adalah merosotnya nilai jual sejumlah komoditas perkebunan yang selama ini menjadi andalan perekomian masyarakat. Terutama gambir, sejak harganya tidak pernah membaik lagi di pasaran, sudah tidak sedikit petani yang frustasi untuk memelihara –apalagi menggantungkan harapan dan masa depan pada— komoditas itu.

Gambaran itu tampak di sejumlah perkampungan sentra produksi gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, yaitu Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kecamatan Kapur IX.

‘’Makmur apa?’’ ujar seorang petani gambir di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, balik bertanya saat ditanya apa umpan balik ekonomi dari komoditas gambir yang ia kelola mampu membuat hidup diri dan keluarganya menjadi makmur? “Untuk cukup makan saja sudah susah.”

Menurut Yunus, 43, nama petani itu, jangankan berlebih, bisa saja komoditas yang dihasilkan perkebunannya untuk memenuhi kebutuhan hidup, sudah lebih dari cukup.

‘’Saya masih mengolah gambir karena memang tidak ada pekerjaan lain.’’ Ia juga bercerita, kebun gambir itu merupakan warisan orangtuanya, keterampilannya mengelola gambir juga merupakan warisan. ‘’Saya bersama saudara-saudara tidak pernah diajarkan orangtua untuk mengelola usaha di luar gambir,’’ katanya, belum lama ini.

Harga jual gambir sejak beberapa tahun belakangan benar-benar membuat petani gambir “sesak nafas.” Dengan nilai jual di tingkat pedagang pengumpul yang tak pernah melewati angka Rp20.000 –yang tersering malah antara Rp15.000 sampai Rp16.000/kg—upah yang diperoleh oleh setiap pekerja di ladang gambir setiap hari kerja hanya Rp60.0000.

‘’Bisa apa dengan upah sebanyak itu,’’ keluhnya lagi. Boleh jadi tak membeli beras, karena untuk kebutuhan itu diperoleh dengan mengelola areal persawahan, tapi dengan uang sebesar Rp60.000 apa yang bisa dilakukan untuk menghidupi sebuah keluarga—apalagi keluarga yang sudah terlanjur terlilit utang seperti mengkredit ini dan itu?

Tapi, sejak beberapa pekan terakhir terjadi pergerakan harga gambir ke arah yang lebih baik, di atas Rp30.000/kg. Tapi di mata para petani, angka penjualan sebanyak itu belum dinilai memadai, terutama bila dikonversikan ke biaya yang harus dikeluarkan untuk memodali biaya produksi.

Gambir pernah mencapai nilai penjualan tertinggi, yaitu Rp125.000/kg. Banyak nasib petai yang berubah dengan drastis karena harga yang mahal itu. Tak pelak, kala itu ada yang menjuluki komoditas yang satu ini sebagai "emas cokelat."***

Halaman:

Editor: Evi Endri

Tags

Terkini

Tiga Rekomendasi Motor dengan CC Besar

Selasa, 29 November 2022 | 14:31 WIB
X