Mendag ZUlhas Pastikan Minyak Goreng Tidak akan Tertular oleh Kenaikan Harga BBM

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 21 September 2022 | 15:41 WIB
 Mendag Zulkifli Hasan menunjukkan minyak goreng saat meninjau bahan pokok dan minyak goreng di Pasar Ciracas, Jakarta, Selasa, 5 Juli 2022. (f: Pikiran-Rakyat.com)
Mendag Zulkifli Hasan menunjukkan minyak goreng saat meninjau bahan pokok dan minyak goreng di Pasar Ciracas, Jakarta, Selasa, 5 Juli 2022. (f: Pikiran-Rakyat.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menegaskan, kekhawatiran efek domino yang ditimbulkan oleh kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dipastikan tidak akan berdampak pada minyak goreng.

Menteri yang akrab dipanggil Zulhas ini mengatakan, pemerintah melalui Kemendag akan terus memantau supaya tak ada penghapusan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sawit.

Adapun yang dimaksud dengan kebijakan DMO sawit merupakan kewajiban pelaku usaha alias pengusaha sawit untuk memasok 300.000 ton minyak sawit mentah ke dalam negeri.

Artinya, sebelum diekspor ke negara asing, kebijakan ini akan otomatis memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri terlebih dulu.

Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra, menjelaskan pemberlakuan DMO sawit bakal tetap diberlakukan untuk menjamin kepastian pasokan minyak sawit domestic.

Hal itu secara otomatis akan signifikas memberi dampak pada keseimbangan pasokan dan harga minyak goreng.

Lebih lanjut lagi Syailendra mengatakan, kebijakan DMO sawit ini nyatanya menjadi andalan pemerintah dalam menjaga pasokan serta harga minyak goreng tetap stabil.

“Ya 300 ribu ton per bulan supaya pasokan terjaga. Dan ini betul realisasinya, kami pantau terus. Hampir tidak pernah di bawah itu (pasokan minyak di dalam negeri)," ujar Syailendra, sebagaimana dilansir Pikiran-Rakyat.com.

Kendati demikian, potensi ekspor minyak sawit tak serta merta hilang lantaran pemberlakuan DMO.

Dalam catatannya, Syailendra mengatakan hingga kini ekspor komoditas tersebut masih bisa dilakukan dalam jumlah yang juga besar.

"Kalau 300 ribu ton disuplai, dikali sembilan. Maka ekspornya itu 2,7 juta ton. Itu di Jawa saja. Kalau dia kemas seperti Minyakita, kali lagi 1,5. Kalau dia Indonesia Timur tambah lagi porsinya," tutur dia.

Masih dari keterangan Syailendra, Kemendag akan terus melakukan evaluasi dalam rapat rutin setiap Selasa dan Jumat.

Nantinya, hasil evaluasi tersebut akan dapat memetakan ketersediaan Minyakita di berbagai pasar dengan harga 14.000 per liter.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X