JAKARTA, RIAUSATU.COM-Menko Perekonomian Darmin Nasution akhirnya berkata jujur. Bahwa dia miris lantaran pemerintah gagal menjaga stabilitas harga komoditas pangan.
Dalam sebuah acara di Jakarta, Rabu (3/8/2016), Menko Darmin menceritakan era kejayaan Indonesia pada 500-600 tahun lalu. Saat itu, Indonesia memiliki beberapa komoditas unggulan. Karena itulah, negara di Eropa tertarik untuk menjajah Indonesia untuk menyedot kekayaan alam termasuk rempah-rempahnya.
''Yang mau disampaikan adalah kita punya rempah-rempah yang diburu oleh bangsa lain tapi coba lihat hari ini bagaimana dengan rempah-rempah kita? Itu sudah seperti sejarah. Walau anda pergi ke Ternate, anda masih bisa lihat rempah, tapi tidak menjadi andalan lagi,'' ujar Darmin.
Menko Darmin mengingatkan kembali bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir gula terbesar di dunia. Hal itu terjadi sebelum kemerdekaan. Kini, semuanya tinggallah sejarah karena Indonesia masuk importir gula.
''Coba lihat hari ini, 3,5 juta ton impor per tahun. Kemudian lahir beberapa komoditi pertanian. Kalau anda pernah baca buku Agriculture in volution anda akan lihat satu drama yang pernah terjadi di nusantara, lahir dan berkembangnya produk perkebunan,'' kata Menko Darmin, sebagaimana dilansir inila.com.
Mantan Gubernur BI ini mengatakan, banyak pihak yang tertarik untuk cawe-cawe dalam bisnis gula, khususnya di era orde baru. Namun sekarang, gula tidak lagi menjadi komoditas andalan nasional.
Menko Darmin bilang, kelapa sawit mulai dilirik di era 1970-an. Sebelumnya, kelapa sawit tidak begitu diminati. Lantaran, minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit, aromanya kurang diminati.
''Pertengahan 70-an, baru ditemukan teknik untuk memprosesnya. Sehingga sawit menjadi minyak goreng. Bukan hanya menyaingi kelapa, bahkan mengungguli kelapa,'' ujarnya.
Darmin mengatakan, silih bergantinya komoditas unggulan di Indonesia, membuktikan ada masalah yang perlu dipecahkan. ''Pertanyaan besarnya, apakah kita ingin kelapa sawit juga bernasib sama dengan yang lainnya? Tentunya kita tidak ingin. Sebab, kelapa sawit merupakan komoditas andalan berjuta-juta orang,'' pungkasnya. (dri)