Mengubah Peruntungan dengan Kelapa Sawit

photo author
Redaktur, Riau Satu
- Selasa, 24 Mei 2016 | 10:42 WIB

SUMSEL, RIAUSATU.COM-Dalam 13 tahun, kehidupan Nur Jauhari jauh berubah. Pada 1993, pria asal Semarang, Jawa Tengah ini, hidupnya serba dicukup-cukupkan. Kini, Nur boleh dibilang sangat berkecukupan.

Berkat kerja keras menggarap sawit di lahan gambut, Nur masuk jajaran petani sukses di Desa Teluk Panji I, Kabupaten Labuanbatu Selatan, Sumatera Utara. Punya rumah yang lumayan megah, lengkap dengan perabotan.

Untuk operasional sehari-hari, Nur tinggal pilih saja. Mau menikmati mobil mewah, atau motor roda dua nan gesit. Yang jelas, urusan mau kemana, tidak ada masalah baginya.

Selain itu, Nur mampu menyekolahkan kedua anaknya di perguruan tinggi. Tiap bulan, dirinya harus menyediakan dana yang lumayan besar untuk kedua buah hatinya itu.

Jadi, bisa disimpulkan, pengeluaran Nur per bulan, pastilah lumayan besar. Apalagi, biaya hidup di daerahnya, cukup tinggi juga. Tapi, semuanya bukan masalah. Lantaran, pendapatan dari sawit lebih dari cukup.

Apalagi, Nur memiliki lahan baru seluas 5 hektar di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau. Sehingga, total lahan yang dimilikinya hampir 10 hektar.

Yang lebih menentramkan hati, Nur berencana berhaji di tahun ini. Bersama dengan 22 kepala keluarga Desa Teluk Panji I. Lagi-lagi semuanya berkah dari kelapa sawit. ''Alhamdulillah semuanya dari kelapa sawit kami bisa begini. Tahun ini sekitar 25 orang dari desa sini yang berhaji,'' papar Nur kepada wartawan di KUD Karya Maju, Desa Teluk Panji I, Labuanbatu Selatan.

Asal tahu saja, Nur Jauhari adalah satu dari 1.500 kepala keluarga yang memutuskan menjadi transmigran di Sumatera. Dalam menggarap kebun sawit, para transmigran itu menjadi anak asuh PT Abdi Budi Mulya (ABM).

Syahril Pane selaku General manager PT ABM menerangkan, sejak PT ABM berdiri pada 1998 sudah menjadi bapak asuh bagi petani transmigran. Saat ini, PT ABM mengelola kebun sendiri seluas 3 ribu hektar, serta dua unit pabrik kelapa sawit (PKS). Selain itu, luas lahan sawit milik petani yang menjadi binaan PT ABM mencapai 2 ribu hektar. ''Kalau produktivitas sawit di lahan kami sebesar Rp 23 ton sampai 26 ton per tahun. Dengan rendemen 19 persen,'' kata Pane, sebagaimana dilansir inilah.com.

Untuk mengerek produksi serta kualitas sawit yang ditunjukkann dengan tingginya rendemen, dilakukan sejumlah riset atau percobaan. Kini, perusahaan tengah mencoba teknik penanaman sawit yang aman dari hama.

Dipadukan dengan pengolahan lahan gambut untuk penguatan akar serta nutrisi bagi tanaman. Tentu saja, sistem tata air atau water management tidak bisa dilupakan.

''Kami targetkan bisa mengerek naik produksi sampai 28 ton per tahun. Alhamdulillah, sudah berhasil kami coba di kebun kami di Desa Teluk Panji V,'' kata Syahril.

Dengan dilakukannya berbagai inovasi ini, Syahril optimis, produktivitas kelapa sawit di lahan gambut, bisa terus dinaikkan. Hanya saja, biaya untuk penelitian ataupun riset, tidak murah. ''Jadi, saya heran kok ada kabar bahwa perusahaan rela membakar lahan sawitnya. Membangun lahan sawit kan biayanya mahal sekali,'' tutur Syahril.

Gambut dan Kebakaran Lahan
Apa benar lahan gambut mudah terbakar? Bisa iya, bisa pula tidak. Gambut yang mudah terbakar kondisinya haruslah kering. Itu sebabnya, sejumlah lahan gambut menjadi korban dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Maret 2016.

Hal yang cukup aneh, keberadaan lahan bergambut justru disalahkan. Dianggap sebagai salah satu pemicu kebakaran. Padahal, lahan gambut adalah berkah apabila tahu cara mengelolanya.

Sifat yang berbeda dimiliki gambut yang lembab alias basah. Gambut jenis ini sangat sulit terbakar. Selain itu, lahan gambut yang lembab sangat cocok untuk budi daya kelapa sawit.

Adanya dua sifat yang bertolak belakang ini lantaran gambut berasal dari batang pohon, ranting, dedaunan serta sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Yang usianya bisa ratusan hingga ribuan tahun. Alhasil, gambut memiliki kandungan organik yang cukup tinggi.

Nah, agar lahan gambut tetap lembab, caranya sederhana saja. Bangun saluran air, berupa benteng, selokan, pintu air di sekeliling lahan. Dan, ketinggian air di saluran tersebut dijaga 50-75 centimeter. Sistem inilah yang disebut water management.

Kini, sebagian besar lahan sawit baik yang dikelola industri maupun petani, sudah menggunakan water management. Dengan menjaga kelembaban gambut, dampaknya cukup efektif. Khususnya mencegah kebakaran serta menjaga unsur hara yang sangat dibutuhkan sawit.

''Air di lahan gambut itu makanan utama bagi sawit. jadi, memang perlu dipertahankan,'' papar Prof Erwin Harahap, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU).

Kini, petani sawit di tanah air tengah dilanda kegalauan. Semuanya lantaran masifnya kampanye hitam terhadap sawit khususnya yang tumbuh di ladang gambut. Sementara sikap pemerintah juga tidak jelas arahnya. Padahal, jelas-jelas sawit mampu mensejahterakan rakyat. (dri)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaktur

Tags

Rekomendasi

Terkini

X