JAKARTA, RIAUSATU.COM-Harga minyak dunia bergerak melemah setelah menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan. Harga emas hitam ini turun didorong oleh sentimen pertemuan Federal Reserve AS memperkuat dolar (USD) dan persediaan minyak AS kembali meningkat.
Harga minyak kembali turun setelah risalah dari pertemuan kebijakan The Fed pada April mempertahankan pintu terbuka untuk menaikkan suku bunga pada Juni. Hal ini membuat nilai tukar USD menguat dan menciptakan tekanan pada minyak, yang diperdagangkan dalam mata uang AS.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 12 sen menjadi USD 48,19 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak Brent North Sea untuk pengiriman Juli turun 35 sen menjadi menetap USD 48,93 per barel di London.
Data pemerintah AS menunjukkan, penurunan dalam produksi minyak Amerika serta konsumsi lebih tinggi pada bensin dan produk olahan lainnya. Namun, data juga menunjukkan persediaan AS naik 1,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Mei.
Di Kanada, harapan pemulihan segera 1,2 juta barel produksi minyak per hari dari wilayah pasir minyak Alberta pupus, ketika 8.000 pekerja diperintahkan keluar pada Senin malam setelah kebakaran menyebar dan kian intensif.
Kobaran api pada Selasa menghancurkan 665 kamar rumah pondokan pekerja minyak di utara Fort McMurray, sementara dua lainnya di lokasi yang sama dengan total 4.000 kamar berada dalam risiko.
Gene McGillian dari Tradition Energy's masih belum memperkirakan produksi Kanada akan berkurang untuk jangka waktu yang sangat panjang.
''Dorongan ke atas USD 50 per barel juga bisa memicu beberapa operator minyak untuk memulihkan produksi,'' katanya seperti dikutip Antara, Kamis (19/5), dilansir merdeka.com. (dri)