Jurus Bank Syariah Gebrak Pasar KPR

photo author
Redaktur, Riau Satu
- Selasa, 17 Mei 2016 | 09:30 WIB

JAKARTA, RIAUSATU.COM-Masyarakat Indonesia belum kenal betul soal perbankan syariah. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik dengan bank konvensional, termasuk dalam pembiayaan perumahan seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Berbagai kendala juga dialami perbankan syariah dalam pembiayaan KPR, di antaranya adalah keterbatasan dalam aksesibilitas di pasar.

''Produk syariah maupun konvensional itu di Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pricing-nya sama. Isunya adalah saat ini bank syariah sudah mampu belum mengakses pasar yang harga rumahnya segitu. Lokasi nya jauh-jauh, di lokasi yang jauh kita punya channel nggak di sana, punya outlet nggak. Keterbatasan itu yang bisa jadi belum sanggup diatasi oleh perbankan syariah.  Jadi isunya bukan di pricing, tapi keterbatasan dalam aksesibilitas di pasar,'' jelas Departement Head Consumer Bank Syariah Mandiri, Widodo Darojatun dalam acara Chat After Lunch "Rumahku Rumah Syariah" di Hong Kong Cafe, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

Terkait hal itu, Widodo mengungkapkan, pihaknya terus melakukan upaya agar perbankan syariah bisa tetap tumbuh dan bersaing dengan perbankan konvensional.

''Intinya kita ingin meningkatkan the whole customer experience from end to end. Ada produk-produk yang menjelang lebaran itu permintaan tinggi, tapi ada juga yang turun. Jadi disesuaikan dengan produk saja. Ada produk non KPR untuk PNS dan pensiunan itu relatif meninggi di bulan-bulan lebaran,'' sebut dia, sebagaimana dilansir detikFinance.

Bagaimana caranya supaya menarik dibanding konvensional?

''Yang namanya bisnis sebisa mungkin naikin profit, jadi seandainya mampu, kita nggak perlu ikut-ikutan naikin pricing. Tapi kalau nggak mampu ya biasanya ngikutin. Di lapangan, kita relatif nya adaptif. Kalau pricing misalnya turun drastis, seperti kalau di berita bank-bank besar kayaknya nurunin pricing di bawah 10. Itu honestly bikin saya berpikir bagaimana kita tetap bisa survive tanpa harus ngorbanin profit margin. Karena kalau profit margin terlalu tergerus, rugi, perusahaan kan jadi nggak sustaining. Tetap harus adaptif intinya, tapi kita nggak ingin perang-perangan harga,'' ujar Widodo. (dri)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaktur

Tags

Rekomendasi

Terkini

X