Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat melampaui 120 dollar AS per barrel pada kuartal IV-2026 jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga 2027.
Potensi kenaikan akan semakin besar jika gangguan juga terjadi secara berkepanjangan di Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker terbakar setelah terjadi ledakan ketika mencoba melintasi jalur yang dipenuhi ranjau di bagian selatan Selat Hormuz dekat pesisir Oman.
Dua kapal tanker lainnya dilaporkan memilih berbalik arah. Garda Revolusi juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan "sepenuhnya ditutup" selama operasi militer AS di kawasan masih berlangsung.
Iran memperingatkan tidak ada kapal tanker yang diizinkan masuk maupun keluar tanpa koordinasi dengan Teheran.
Sementara Presiden AS Donald Trump sebelumnya berjanji akan memberikan "hukuman militer besar" terhadap Iran dan sekutunya, Houthi.
Menurut analis UBS Giovanni Staunovo, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz telah menyebabkan jumlah kapal tanker non-Iran yang melintasi jalur tersebut menurun tajam.
Selain itu, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran diperkirakan membuat ekspor minyak Iran turun menjadi nol dari sebelumnya sekitar 1,5 juta hingga 2 juta barrel per hari pada awal bulan.
Akibat berkurangnya kapal yang keluar dari Selat Hormuz, aktivitas pemuatan minyak di kawasan Teluk turun menjadi sekitar 2,5 juta barrel per hari dalam 7 hari terakhir, jauh di bawah rata-rata 6 juta barrel per hari selama 30 hari sebelumnya.
Untuk menjaga pasokan, 7 negara inti OPEC+ yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman diperkirakan akan menyepakati kenaikan target produksi sekitar 188.000 barrel per hari untuk September dalam pertemuan pada 2 Agustus mendatang, meski konflik masih membatasi kemampuan sebagian anggota meningkatkan produksi.***