Ia menekankan bahwa persoalan utama sektor migas Indonesia saat ini berada di sisi hulu.
“Produksi minyak kita hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM sudah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Artinya, defisit tetap besar dan impor sekitar 1 juta barel per hari tidak bisa dihindari, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM,” ujarnya.
Menurut Yusri, meskipun RDMP Balikpapan berpotensi menurunkan impor BBM jadi, kebutuhan impor minyak mentah justru berpotensi meningkat untuk memenuhi pasokan bahan baku kilang.
Sebelumnya, Bahlil menyatakan bahwa peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari melalui fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) akan memperkuat ketahanan energi nasional.
Bahlil juga menyebutkan bahwa produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan, sehingga impor bensin secara bertahap dapat ditekan.
Pemerintah, kata dia, juga mendorong penerapan campuran etanol E10 untuk mengurangi ketergantungan impor BBM.
“Kami optimistis melalui RDMP dan pengembangan kilang lanjutan, impor bensin bisa terus dikurangi bahkan dihentikan untuk jenis tertentu,” ujar Bahlil. ***