PEKANBARU, RIAUSATU.COM – Produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Migas Blok Rokan anjlok drastis hingga sekitar 60.000 barel per hari setelah terjadinya kebocoran dan ledakan pipa gas yang dikelola PT Transportasi Gas Indonesia (TGI), anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), di sejumlah wilayah di Riau pada awal Januari 2026.
Penurunan produksi tersebut terjadi akibat terganggunya pasokan gas yang selama ini digunakan untuk mengoperasikan pembangkit listrik dan fasilitas produksi minyak.
Pasokan gas terganggu menyusul insiden kebocoran pipa gas jalur Grissik–Duri (GD) di Kabupaten Indragiri Hilir pada 2 Januari 2026, serta insiden serupa di Kabupaten Indragiri Hulu pada 9 Januari 2026.
Informasi yang diperoleh Riau Satu, Senin (12/1/2026), menyebutkan produksi minyak Blok Rokan yang sebelumnya berada pada level ratusan ribu barel per hari, merosot tajam akibat pemadaman listrik (blackout) yang menghentikan operasi sumur-sumur minyak dan fasilitas penunjang lainnya.
Gangguan pasokan gas berdampak langsung pada pembangkit listrik yang menggerakkan pompa angguk serta sistem produksi minyak.
Akibatnya, sebagian besar kegiatan produksi terhenti sejak terjadinya blackout pada 2 Januari 2026.
Proses pemulihan produksi diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang. Peningkatan produksi secara bertahap (ramping up) diproyeksikan memakan waktu dua minggu hingga satu bulan.
Namun, sejumlah sumur diperkirakan tidak dapat kembali ke tingkat produksi sebelum insiden.
Minyak mentah dari Blok Rokan selama ini menjadi salah satu penopang pasokan bagi Kilang Pertamina Dumai.
Terganggunya pasokan tersebut berpotensi membuat PT Kilang Pertamina Internasional menambah impor minyak mentah guna menjaga keberlanjutan operasi kilang.
BERITA TERKAIT:
Dikonfirmasi terpisah, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Agung Prasetya, membenarkan adanya gangguan pasokan gas akibat kebocoran pipa yang dikelola TGI.
“Pasokan gas tersebut digunakan untuk mendukung operasi PHR, khususnya pembangkit listrik untuk sumur-sumur minyak, fasilitas operasi lainnya, serta pembangkit uap untuk operasi Lapangan Duri,” ujar Agung.
Menurut dia, PHR terus berkoordinasi dengan TGI untuk memantau perkembangan perbaikan pipa gas dan melakukan langkah-langkah mitigasi guna meminimalkan dampak terhadap kegiatan produksi migas.