Selanjutnya, wisata religi lainnya adalah makam Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq atau yang akrab disapa Tuan Guru Sapat. Letak makam beliau di Kampung Hidayat Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau.
Sosok Tuan Guru Sapat merupakan seorang guru agama Islam atau Mufti Kerajaan Indragiri. BPCB Sumbar melansir, Sang Mufti lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimatan Selatan pada Tahun 1857 Masehi atau 1284 Hijriyah.
Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadi Haji Mahmud dan Ibunya bernama Shafura dan beliau merupakan keturunan ulama besar dari Kalimantan bernama Syekh Arsyad Al Banjari.
Tuan Guru Sapat wafat pada Tahun 1939. Ia cukup tersohor dan banyak memiliki murid yang berasal dari negeri Malaysia, Singapura, Kalimantan, Jambi, dan Palembang. Beliau menyebarkan agama islam hingga akhir hayatnya pada usia 83 tahun.
Untuk menuju Makam Tuan Guru Sapat dari Kota Tembilahan harus menuju pelabuhan Hidayat. Menempuh waktu sekitar 1 jam menggunakan speedboat. Tiba pelabuhan Hidayat, perjalanan bisa dicapai dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan roda dua.
Wisata religi lainnya di daerah di Riau adalah
Masjid Agung Madani Islamic Centre (MAMIC), di Kota Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul)
Masjid ini sekaligus difungsikan sebagai Islamic Center Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Pada tahun 2015 lalu, masjid ini pernah dinobatkan sebagai masjid terbaik di Indonesia.
MAMIC berdiri megah di atas tanah seluas 220.000 meter persegi. Luas bangunannya 25.800 meter persegi. Sehingga mampu menampung 20.000 jemaah. Berada di pusat kota Pasir Pengaraian, Jalan Tuanku Tambusai Kilometer 4, Pematang Berangan, Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.
Arsitektur MAMIC memilih gaya modern dipadu gaya arsitektur Arab dengan kubah besar berdiameter 25 meter di atap bangunan utama. Di setiap sudut bangunan utama masjid berdiri kokoh 4 menara setinggi 66.66 meter.
Selain itu, ada pula satu menara utama setinggi 99 meter. Menara ini menjulang kokoh, tinggi ke atas cakrawala, terpisah dari bangunan utama masjid.
Menara 99 meter ini memiliki filosofi yang melambangkan jumlah asmaul husna. Menariknya, dari atas menara, pengunjung bisa terpesona melihat keindahan pemandangan.
Destinasi wisata religi selanjutnya adalah Masjid Raya Senapelan Pekanbaru. Masjid ini awalnya bernama Mesjid Senapelan. Dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780), Raja keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura, sekitar 1762 M.
Masjid tersebut, merupakan situs cagar budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 209/M/2017 Tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru.
Masjid Raya Senapelan Pekanbaru bergaya arsitektur Melayu. Dipengaruhi oleh arsitektur Timur Tengah dengan dominasi warna kuning sebagai ciri khas warna Melayu.
Di kawasan masjid terdapat beberapa objek, yakni bekas tapak masjid yang pertama kali dibangun, sumur tua, Makam Marhum Pekan dan Makam Marhum Bukit. Lokasinya, berada di Jalan Masjid, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru.