PEKANBARU, RIAUSATU.COM – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengungkapkan bahwa rendahnya realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi di Provinsi Riau turut dipengaruhi oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan tersebut memunculkan sorotan karena MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut SF Hariyanto, implementasi MBG berdampak pada aktivitas ekonomi di lingkungan sekolah, terutama operasional kantin yang selama ini menjadi salah satu objek penghasil retribusi daerah.
Akibatnya, sejumlah sumber penerimaan daerah mengalami penurunan.
Pernyataan itu disampaikan SF Hariyanto saat menjawab pertanyaan anggota DPRD Riau Abdullah dalam rapat paripurna di Pekanbaru, Senin (22/6/2025), yang membahas capaian pendapatan daerah pada semester pertama tahun berjalan.
Dalam forum tersebut, Abdullah menyoroti rendahnya realisasi retribusi daerah yang baru mencapai sekitar 25 persen dari target pada semester pertama 2025.
Padahal, menurut dia, terdapat 28 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki objek retribusi dan berkontribusi terhadap PAD.
“Target kita Rp12 miliar. Jika dibandingkan dengan provinsi tetangga, Sumatera Barat, yang PDRB-nya sekitar Rp400 triliun, sementara Riau mencapai Rp2.100 triliun, retribusi Sumatera Barat justru mencapai Rp22 miliar. Sementara kita hanya menargetkan Rp12 miliar dan realisasinya baru 25 persen,” kata Abdullah dalam rapat tersebut.
Ia menilai capaian itu belum sebanding dengan potensi ekonomi yang dimiliki Riau.
Karena itu, Abdullah mengajak seluruh OPD yang memiliki objek retribusi untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat upaya penggalian sumber-sumber PAD.
Menanggapi hal tersebut, SF Hariyanto mengatakan pemerintah daerah terus mengevaluasi sejumlah faktor yang memengaruhi penerimaan retribusi.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah dampak pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah.
“Saya melihat ini akibat dari MBG. Di sekolah-sekolah, kantin-kantin sudah tidak beroperasi seperti biasa karena siswa sudah mendapat makanan dan minuman langsung dari program. Banyak yang tutup. Namun, dengan kebijakan saat ini, kantin-kantin mulai dihidupkan kembali. Inilah salah satu kendala yang menjadi dampak dari MBG,” ujar SF Hariyanto.
Menurut dia, berkurangnya aktivitas kantin sekolah tidak hanya berdampak terhadap pelaku usaha kecil yang menggantungkan penghasilan di lingkungan pendidikan, tetapi juga berpengaruh pada penerimaan retribusi yang selama ini menjadi salah satu sumber PAD.
Pernyataan tersebut menambah daftar perdebatan mengenai dampak Program Makan Bergizi Gratis.