Ditumpangi Hantu Berwujud Perempuan Cantik Berambut Panjang di Kelok Sembilan

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 7 September 2022 | 16:07 WIB
Kelok Sembilan. (f: internet)
Kelok Sembilan. (f: internet)

Saya sadar, saat itu harus cepat sampai di rumah sakit, sementara perjalanan baru sepertiga yang dilewati.Tapi, manakala melihat realitas yang ada kala itu, dan keinginan yang kuat untuk menolong sesama di tengah malam yang sudah larut, pikiran saya berubah. Apalagi yang minta ditumpangi itu adalah seorang perempuan. Semula ingin mencuekannya, tapi belakangan bermurah hati memberi perempuan itu tumpangan.

“Kama-a malam-malam ko?” tanya saya, yang artinya: kemana malam-malam begini? Pertanyaan itu saya ajukan ketika saya menduga si perempuan tersebut sudah di duduk di jok motor saya.
Tak ada jawaban.

“Apo indak takuik keluyuran malam-malam saroman iko?” sekali lagi saya mencoba berbasa-basi, yang artinya: Apa tidak takut keluyuran malam-malam begini?

Lagi-lagi tak ada sahutan.

Saya kemudian mengambil sikap untuk tak lagi menanya ini dan itu. Mau dijawab atau tidak pertanyaan itu, terserah. Yang penting, menurut kata hati saya, di tengah situasi sulit karena harus menjenguk si adik yang sedang sakit, saya masih berlapang hati untuk memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.

Saya kemudian cepat-cepat menekan pedal gas sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan.

Tak ada yang terasa aneh ketika perjalanan dilanjutkan lagi. Kalau soal ia diam, memang sedari mau naik motor tadi si perempuan itu tetap diam, kendati saya sudah mengajukan sejumlah pertanyaan. Yang terasa agak lain hanyalah bau dupa menyengat, yang menusuk tajam menembus lubang hidung saya.

Setelah sekitar 7 km perjalanan, sepeda motor saya memasuki Lubuk Bangku, sebuah kawasan pemukiman yang dijejali kedai-kedai yang menjual nasi dan aneka kuliner lainnya.

Saya berniat mampir, hendak membeli rokok. Sepeda motor saya kemudian menepi, mendekati sebuah kedai kecil yang posisinya pas di pinggir jalan.

Begitu motor berhenti, refleks mata saya melihat ke bagian jok belakang, tempat di mana sebelumnya saya merasa memboncengi seorang perempuan berambut panjang.

Kampret! Darah saya benar-benar tersirap. Kenapa tidak, tidak ada siapa-siapa di jok belakang motor saya itu. Juga tidak ada perempuan berambut panjang yang serasa saya tumpangi di tengah jalan tadi.

Bahkan, tak sedikit pun terlihat bekas, yang menandakan jok itu baru saja usai diduduki. Sebelumnya saya juga tidak pernah mendengar suara perempuan itu minta diturunkan di tengah jalan sebelum sepeda motor saya sampai di kedai rokok tersebut.

Penasaran, saya kemudian mencoba mencari di sekitar sepeda motor saya parkir, siapa tahu ia turun diam-diam. Atau, ia sempat memberi tahu ke saya, tapi lantaran suaranya kecil, tak terdengar oleh saya.

Celengak-celenguk, pandangan pun saya tebarkan ke berbagai titik dan sudut di sekitaran sana, mana tahu perempuan yang saya cari ditemukan. Lagi-lagi hasilnya nol besar.

Di saat kebingungan, si pedagang tempat saya membeli rokok mengagetkan saya dengan pertanyaan: “Apo nan dicari, Da?” tanyanya. Artinya, apa yang sedang Kanda cari? Da itu artinya panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Minang.
Saya mencoba mengelak, dengan mengatakan: “Tak apo-apo.” Maksudnya, tidak apa-apa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X